Sebab-Sebab Terjatuh Ke Dalam Fitnah

[Serial Menghindari Fitnah Dengan Kembali Kepada Allah: 3]

Saudaraku, setelah mengetahui hakikat fitnah dan maknanya, serta menyadari fitnah mana saja yang wajib dihindari, maka hal yang tidak kalah penting untuk diketahui adalah faktor-faktor  penyebab seseorang dapat terjatuh dan tenggelam ke dalam fitnah yang membahayakan.

Banyak faktor penyebab seseorang terinfeksi fitnah atau terjerumus ke dalamnya. Namun, sebab-sebab tersebut terkonsentrasi dalam dua sebab utama, yaitu:

Pertama: Keluar dari kebenaran (Syubhat).

Hal ini biasanya disebabkan minimnya usaha mencari tahu kebenaran, atau telah berusaha namun tidak berhasil menemukannya karena kendala syubhat dan takwil batil. Tak jarang pula seseorang telah mengetahui kebenaran, namun tidak memiliki keyakinan yang kokoh. Maka ia terjebak ke dalam finah syubhat sebab kejahilan dan pemahaman yang menyimpang, atau lemahnya keyakinan akan kebenaran.

Orang yang tidak memiliki ilmu kemudian mendahulukan pendapatnya atas nas-nas syari’at -apalagi disertai niat buruk-, akan dengan mudah terjatuh dalam fitnah syubhat, yang kemudian mengantarkannya ke berbagai bid’ah dan khurafat, atau kepada kekufuran dan kemunafikan. Apalagi di tengah badai perang pemikiran yang kian gencar dilancarkan oleh musuh-musuh Islam.

Kedua: Tidak sabar di atas kebenaran (Syahwat).

Orang yang terjerumus dalam fitnah bisa juga disebabkan ketidaksabarannya di atas kebenaran. Ia tahu perkara yang benar, namun tidak kuat menahan syahwat dan hawa nafsu, lantas meninggalkannya dengan penuh kesadaran. Sehingga nafsu menggebu dapat mengalahkan akal sehat.

Fitnah syubhat dapat ditangkal dengan keyakinan akan kebenaran yang datang dari Allah dan RasulNya, berpegang teguh dengan nas-nas Al-Qur’an dan sunnah serta menundukkan pendapat pribadi maupun golongan di bawah otoritas nas syar’i. Di samping itu, seorang pencari kebenaran harus memperbaiki niat dan hatinya, karena niat dan hati yang rusak menjadi penyebab utama seseorang tak mampu mencapai kebenaran, walau sangat jelas di depan mata.

Fitnah syahwat dapat diatasi dengan kesabaran dan istiqamah di atas kebenaran dalam amalan pribadi maupun saat berdakwah, menimbang semua perbuatan dengan akal sehat, sebab logika lurus tidak boleh kalah dengan hawa nafsu, jika tidak seseorang akan terjerumus ke dalam kefasikan.

Allah Azza wa Jalla berfirman: Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (QS. As-Sajdah: 24).

Ayat ini menjelaskan dua kriteria utama menjadi suri teladan atau panutan yang ideal untuk diikuti, yakni; yakin dan sabar. Karena dengan kedua sifat ini seorang muslim selamat dari fitnah syubhat dan syahwat, lantas layak untuk memberi petunjuk kepada kebaikan dan pantas untuk dijadikan panutan. Artinya pula, orang yang tidak punya keyakinan yang benar, atau suka mengikuti hawa nafsunya tidak pantas dijadikan suri teladan.

Fitnah syubhat lebih dahsyat daripada fitnah syhawat. Karena orang yang terkena syubhat umumnya yakin bahwa ia berada di atas kebenaran, walau hakikatnya salah, sehingga sulit baginya untuk kembali kepada kebenaran hakiki. Sedangkan seorang yang terkena fitnah syahwat, biasanya sadar dan yakin bahwa ia telah jatuh dalam kesalahan dan dosa, sehingga peluang kembalinya kepada kebenaran jauh lebih besar.

Meski demikian, kedua fitnah ini dapat menimpa seorang hamba secara bersamaan, kemudian mengeluarkannya dari jalan yang lurus, dan akhirnya ia berhak menjadi penghuni neraka, wal’iyadzu billah.  Apalagi jika oknum yang terkena fitnah adalah figur masyarakat muslim. Karena itu, ulama salaf mengatakan: “Berhati-hatilah terhadap fitnah seorang alim yang fajir, dan seorang ahli ibadah yang jahil, karena keduanya menjadi fitnah bagi setiap orang yang (mudah) terfitnah.”[1]

Sesama mukmin, kita harus saling menasihati, saling mengingatkan akan urgensi berpegang teguh pada kebenaran dan istiqamah di atasnya dengan penuh kesabaran. Karena sifat inilah yang dapat menyelamatkan kita dari kerugian dunia dan akhirat. Allah Azza wa Jalla berfirman:

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-Ashr: 2-3

Dengan mengetahui dua faktor utama yang dapat menyebabkan seorang muslim terjebak dalam fitnah, maka kita harus berusaha keras menghindarinya sembari senantiasa memohon pertolongan dan perlindungan dari Allah Azza wa Jalla.

[1] Majmu’ Fatawa Ibn Taimiah, jilid I, hal. 197.

Tanggapan (0)
Tambah tanggapan