Penistaan Berujung Kekufuran

Islam datang dengan berbagai kerahmatan ajarannya yang universal, dan relevan di setap era, dan tempat: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS. Al Anbiya: 107). Namun masih banyak umat islam yang masih belum sadar akan urgensi keislaman, dan dua kalimat syahadat yang mereka ikrarkan. Padahal, sebagai umat yang meyakini adanya Allah sebagai Maha Pencipta, dan Pengatur alam semesta, hendaknya mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala tidak hanya meletakkan pedoman bagi alam semesta dan para makhluk lainnya agar hidup dan berjalan sesuai fungsi mereka, namun ia juga meletakkan pedoman hidup dalam bentuk agama bagi manusia. Bedanya, para makhluk itu senantiasa taat menjalani apa yang diperintahkan, sedangkan manusia yang diberikan pilihan dan akal pikiran, malah banyak di antara mereka yang mengesampingkan pedoman tersebut dan melalaikannya.

Pada hakikatnya, dengan adanya pemberian hak pilih dan akal inilah manusia dimuliakan dan diembankan berbagai amanah agama yang mesti ia realisasikan. Bila ia mengagungkan, serta merealisasikan berbagai ajaran dan syiar agama tersebut, niscaya ia tergolong sebagai orang bertakwa, sebagaimana dalam firman Allah: “Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (QS Al-Hajj: 32).

Adapun bila bersikap acuh terhadap tatanan dan syiar agama ini, maka sikap ini merupakan kemaksiatan dan kedurhakaan yang melahirkan berbagai bentuk penyimpangan moral, dan akidah yang tidak ringan dalam komunitas umat. Di antara penyimpangan tersebut adalah menjadikan agama, ajaran-ajarannya, beserta kaum yang agamis sebagai materi lawakan, obyek humor, dan bahan ejekan. Allah Ta’ala telah menyebutkan sikap mereka ini dalam firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. (QS Al-Muthaffifin: 29-30).

Sikap amoral ini merupakan hal yang sangat berbahaya bagi pelakunya, karena menjadi faktor kekafiran sekaligus datangnya azab Allah di dunia dan akhirat. Dalam Al-Quran, Allah Ta’ala telah mengingatkan adanya faktor kekafiran karena melawak, dan menghina agama ini, dan bahwa pelakunya adalah orang yang terjatuh dalam kekafiran: “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka -yakni orang munafik- (tentang apa yang mereka olok-olokkan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (QS At-Taubah: 65-66).

Ayat ini Allah turunkan berkenaan dengan sikap kaum munafik yang mengolok-olok kesalehan, ketakwaan dan perjuangan jihad para sahabat Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Ketika kabar cemoohan mereka ini didengar oleh beliau, dan tersebar di kalangan para sahabat, kaum munafik itu datang kepada beliau meminta maaf sembari berkata: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Namun Allah Ta’ala lalu mengecam mereka lewat turunnya ayat di atas yang menerangkan kekafiran mereka: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok (dan bersenda gurau)?. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.”

Kesimpulannya, melecehkan, mengolok-olok, dan menjadikan agama atau ajarannya sebagai bahan humor adalah suatu kekafiran. Imam Nawawi rahimahullah mengisyaratkan ini dalam ucapannya: “Kalau seseorang saat mengangkat gelas khamar (untuk diminum), atau saat berzina, ia mengucapkan “Bismillah” dengan tujuan menghina dan mengolok-olok Allah Ta’ala, maka ia telah kafir.” (Raudhah Ath-Thalibin: 10/67).

Ironisnya, fenomena menjadikan agama sebagai bahan cemohan, humor dan lawakan ini sangat menjamur di negeri kita zaman ini, sampai-sampai para pelawak dalam berbagai program lawakan TV, medsos, atau media lainnya sudah begitu berani memunculkan isu agama bahkan SARA secara umum sebagai bahan lawakan dan tertawaan, seakan mereka telah kehabisan bahan lelucon di luar konteks agama tersebut. Ini mengisyaratkan bahwa mereka -dengan berbagai basic SARA- adalah orang-orang yang melecehkan karunia Allah dan kufur terhadap nikmat-Nya yang ada pada diri mereka sebagai makhluk, sehingga nekat mempermainkan syiar dan ajaran agama Allah dan menjadikannya sebagai bahan humor. Tragisnya, itu semua mereka lakukan dengan dalih kebebasan pers, dan penyampaian pendapat. Padahal, kebebasan yang hakiki adalah keleluasaan menunaikan hak sebenarnya yang mungkin dilarang dari realisasinya, bukan dalam bentuk merendahkan agama dan menzalimi ajarannya.

Dalam Al-Quran, Allah telah mengisyaratkan salah satu faktor mempermainkan ayat-ayat Allah adalah tidak mensyukuri nikmat-Nya: “Janganlah kamu jadikan ayat-ayat Allah sebagai permainan, dan ingatlah nikmat Allah padamu (jangan mengkufurinya)…”. (QS Al-Baqarah: 231). Di ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan mereka yang meraih berbagai nikmat dan karunia Allah agar jangan sekali-kali menjadikan ayat-ayat dan agama-Nya sebagai bahan guyonan dan humor, sebab kebanyakan orang yang melakukannya adalah orang-orang yang bergelimang harta, namun tidak mensyukurinya, atau bahkan bersikap congkak dan sombong.

Mempermainkan agama dan melecehkannya dengan berbagai bentuk humor dan cemohan juga adalah secara tidak langsung menghina Allah Ta’ala yang langsung akan dibalas dengan laknat dan suatu azab yang besar: “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS Al-Ahzab: 57). Bahkan humor tercelanya inilah yang akan menjerumuskan pelakunya ke dalam jurang neraka sebagaimana dalam hadis: “Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk kemurkaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; namun dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka Jahannam”. [HR Bukhari:6478].

Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim yang telah menjadikan agama dan ayat-ayat Allah sebagai bahan humor dan lawakan untuk segera bertaubat kepada Allah Ta’ala dengan taubat nashuha, dan mengumumkan permohonan maaf di depan public: “Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai”. (QS. At Tahrim: 8).

Bila pelakunya adalah seorang kafir, ia wajib mengumumkan permohonan maaf dan penyesalannya terhadap seluruh umat islam, dan berjanji untuk tidak mengulanginya, karena dampak sikap amoral yang berkaitan dengan SARA ini sangat berbahaya bagi keutuhan dan toleransi dalam tubuh masyarakat kita. Wallaahu a’lam.

     

Tanggapan (0)
Tambah tanggapan