Mendulang Mutiara Di Tanah Suci (Bag. 1)

Ibadah haji, sebagai rukun Islam yang kelima memiliki kedudukan sangat istimewa dalam hati setiap muslim. Ibadah yang diwajibkan hanya sekali seumur hidup ini sarat dengan pelajaran dan mutiara hikmah berharga, yang seharusnya dipahami oleh setiap muslim, khususnya mereka yang mendapat taufik dari Allah untuk menginjakkan kaki di tanah suci.

Allah Ta’ala menempatkan rangkaian ibadah haji di tempat mulia yakni tanah haram, dan pada saat mulia, yakni bulan Dzulhijjah salah satu bulan haram. Kemudian mengistimewakan 10 hari awal bulan Dzulhijjah sebagai hari-hari paling mulia, sebagaimana Allah menjadikan 10 malam terakhir bulan Ramadhan sebagai malam-malam yang paling mulia, dimana amal ibadah pada hari dan malam termulia tersebut dilipatgandakan.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَالْفَجْرِ (1) وَلَيَالٍ عَشْرٍ (2) وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ (3)

“Demi Fajar. Dan Malam Yang Sepuluh. Dan yang genap dan yang ganjil.” (QS. Al-Fajr: 1-3).

Malam yang sepuluh maksudnya adalah sepuluh awal Dzulhijjah. Sesuai pendapat yang shahih dari ulama tafsir, dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid radhiyallahu ‘anhum, dan banyak ulama salaf dan khalaf. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 8, hal. 390).

Pendapat ini dikuatkan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

«مَا العَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ؟» قَالُوا: وَلاَ الجِهَادُ؟ قَالَ: «وَلاَ الجِهَادُ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ»

“Tiada hari-hari dimana amal shaleh di dalamnya lebih dicintai Allah selain hari-hari ini (sepuluh awal Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad?”, beliau menjawab: “Tidak pula jihad, melainkan seseorang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatupun (dari keduanya).” (HR. Bukhari: 969).

Lalu dari sepuluh awal Dzulhijjah, Allah Ta’ala memuliakan dua hari, yakni hari yang genap dan yang ganjil. Hari yang genap adalah 10 Dzulhijjah atau yang dikenal dengan al-hajjul akbar, sedangkan hari yang ganjil adalah 9 Dzulhijjah, atau hari Arafah. (Tafsir Ibnu Katsir: jilid 8, hal. 391).

Tidaklah Allah memuliakan ibadah pada hari atau malam tertentu, melainkan banyak fadhilah dan mutiara hikmah bertebaran padanya.

MUTIARA HIKMAH DALAM MANASIK HAJI

Marilah kita mendulang mutiara-mutiara hikmah yang bertebaran di tanah suci, saat junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan kepada para sahabat tata cara ibadah haji yang benar. Tatkala beliau menanamkan nilai-nilai luhur, sebagai acuan bagi para sahabat beliau dan seluruh umatnya hingga matahari tak terbit lagi.

  1. Mutiara Ikhlas dan pengorbanan.

Ikhlas dalam segala ucapan dan perbuatan adalah kunci utama diterimanya sebuah amal. Amal akan rusak jika terjangkit virus syirik besar maupun syirik kecil (riya’). Dalam melaksanakan ibadah haji ikhlas sangat penting, sebab orang yang dapat menunaikannya adalah orang yang mendapat taufik dan nikmat yang besar, karena banyak kaum muslimin yang masih hidup namun tak mampu, atau mampu namun wafat sebelum menunaikannya.

Di beberapa negara termasuk Indonesia, gelar haji atau hajjah memiliki harga istimewa, dan umumya dapat mengangkat status sosial seseorang. Karenanya, seorang haji atau hajjah harus menjaga keikhlasan lebih intensif saat melaksankan ibadah haji di tanah suci, dan setelah kembalinya ke tanah air.

Di antara hikmah besar rangkaian manasik haji adalah mengingat besarnya pengorbanan manusia pilihan Allah. Manasik haji sangat erat kaitannya dengan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarganya yang mulia.

Jika demikian, Allah Takkan Menelantarkan kami!

Setelah sekian lama menanti sang buah hati, akhirnya Allah mengaruniakan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam seorang putra. Baru saja rindu hati terobati, kini beliau harus berpisah dengan putra yang dicintai. Tapi perintah Allah di atas segalanya, maka dengan ikhlas beliau membawa isteri tercinta dan putra mungilnya dari Palestina menuju sebuah lembah tak berpenghuni di tanah Makkah.

Lihatlah tingginya pengorbanan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam menjalankan perintah Allah, dengan hati yang tulus ia tinggalkan isteri dan putranya di lembah sunyi, hanya bermodalkan satu kendi air dan sedikit kurma. Saat Nabi Ibrahim berpaling pergi, sang istri mengikutinya sambil berkata: “Kemana engkau pergi, apakah kau (tega) meninggalkan kami di lembah tak berpenghuni dan gersang ini?”. Dengan tegar Nabi Ibrahim berjalan terus, tak mengucapkan sepatah kata pun. Maka isterinya berkata: “Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?”, beliau menjawab: “Ya.” Maka istrinya pun berkata: “Jika demikian, Allah tidak akan menelantarkan kami!”.

Jika Anda takjub dengan keikhlasan dan ketegaran Nabi Ibrahim ‘alahissalam, maka Anda takkan kalah takjub dengan tingginya ketulusan dan keikhlasan istri beliau. Tatkala ia tau, bahwa suami tercinta meninggalkan mereka di sana atas perintah Allah, maka dengan hati penuh yakin dan tawakkal ia berkata: ” Allah tidak akan menelantarkan kami!.

Rasa cinta Nabiyullah Ibrahim kepada istri dan putranya, membuatnya terhenti sejenak, setelah yakin istrinya tak lagi melihatnya, beliau berpaling menghadap Ka’bah (tempat buah hatinya berada), beliaupun menengadahkan tangannya seraya berdo’a:

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37).

Allah tidak akan menyia-nyiakan pengorbana tulus hamba-Nya. Setelah tujuh kali bolak-balik dari bukit Shafa ke bukit Marwa, akhirnya Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk menggali mata air zam-zama di sisi bayi Isma’il. Peristiwa yang kemudian diabadikan dalam manasik haji berupa sa’i antara Shafa dan Marwa sebagai salah satu  rukun haji dan umrah, yang  melambangkan pengorbanan besar dengan keikhlasan tinggi dari sebuah keluarga mulia. (Lihat: Shahih Bukhari, jilid IV, hal. 144, no. 3365).

Laksanakanlah Ayah, Aku Akan Sabar!

Masih seputar kisah keluarga nan mulia. Ketika Nabi Isma’il ‘alaihissalam sampai usia mampu membantu ayahnya dalam pekerjaannya, wahyu Allah turun kepada sang ayah melalui mimpi berisi perintah mengorbankan putranya. Sebagai manusia biasa, tentu kita sulit mencerna atau bahkan sulit menerima perintah kepada seorang ayah untuk menyembelih putra tercintanya. Tapi, tidak demikian dengan Khalilullah Ibrahim ‘alaihissalam, cintanya kepada Allah mengalahkan semua cinta, setelah lulus dalam berbagai ujian dari Allah, maka kali ini juga dengan penuh ikhlas beliau berazam untuk melaksanakan perintah-Nya.

Namun yang menambah kekaguman kita adalah reaksi sang putra saat mendengar perintah Allah yang disampaikan ayahnya. Dengan patuh dan ikhlas, ia menerima perintah tersebut tanpa rasa takut sedikitpun, tanpa sanggahan atau kritik. Ia justru berjanji akan sabar menerima ujian dari Allah Ta’ala. Firman Allah tentang kepatuhan sang ayah dan anaknya:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. Ash-Shaffat: 102).

Kisah penyembelihan Ismail ‘alaihissalam  ini diabadikan dengan syariat menyembelih kurban pada 10 Dzulhijjah(Iedul Adha) dan hari-hari tasyriq.

Sungguh mengagumkan kisah pengorbanan keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, kisah yang selayaknya menginspirasi kita untuk membiasakan diri berkorban dengan ikhlas, serta mentarbiah istri dan anak-anak kita untuk senantiasa patuh dan tunduk kepada perintah Allah dan Rasul-Nya dengan penuh ketulusan.

Namun kita tidak boleh lengah akan godaan-godaan setan dari golongan jin dan manusia yang selalu menggembosi kita dalam usaha menunaikan perintah Allah atau menjauhi larangan-Nya. Inilah yang terjadi pada Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail ‘alaihimassalam. Setan tak hentinya menggoda keduanya dengan berbagai tipu daya agar keduanya mengurungkan niat. Bahkan dalam beberapa riwayat, setan muncul tiga kali, dan dilempari oleh Nabi Ibrahim dengan tujuh butir batu di tiga tempat. Peristiwa inilah yang kemudian diabadikan dalam mansik haji berupa kewajiban melempar  tiga jumrah. (Kisah ini diriwayatkan Imam Ahmad dalam Al-Musnad, no. 2707 dengan sanad shahih, Ath-Thabrani, dalam Mu’jam al-Kabir, no. 10628, Hakim dalam al-Mustadrak, no. 1713, dll).

  1. Mutiara Ittiba’.

Ittiba’ berarti meneladani dan mengikuti dengan tulus.

Selama sembilan tahun di Madinah, Rasulullah belum pernah melaksanakan ibadah haji. Baru pada tahun kesepuluh Hijriah beliau dizinkan Allah untuk menunaikannya. Berita persiapan haji beliau tersebar ke seantero Madinah dan sekitarnya, maka berbondong-bondonglah kaum muslimin datang menuju Madinah. Semua rindu Rasulullah, semua ingin meraup fadilah berhaji bersama Nabi tercinta.

Semua sahabat yang ikut berhaji bersama Rasulullah sangat antusias mengikuti tata cara yang beliau lakukan dan ajarkan. Sebab, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan agar mereka mengikuti fase demi fase tata cara manasik beliau. Hal ini sangat penting, karena barangkali hanya kali inilah mereka dapat berhaji bersama Rasulullah. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ، فَإِنِّي لَا أَدْرِي لَعَلِّي لَا أَحُجُّ بَعْدَ حَجَّتِي هَذِهِ»

“Ambillah manasik hajimu (dariku), sebab aku tidak tahu, barangkali aku tidak berhaji lagi setelah hajiku ini.” (HR. Muslim, no. 1298)

Untuk tujuan mulia tersebut, dan agar memudahkan kaum muslimin dalam mengikuti manasik beliau, Rasulullah sengaja menunggang unta dalam hampir keseluruhan rangkaian manasik hajinya.

Selain kewajiban mengikuti manasik haji Rasulullah, para sahabat juga mengemban amanat besar untuk menghapal dan menyampaikan setiap perbuatan dan ucapan beliau selama menunaikan ibadah haji. Dan para sahabat telah menunaikan amanat ini dengan sempurna. Setiap perbuatan yang dilakukan serta perkataan, nasehat dan doa yang beliau ucapkan telah disampaikan kepada kita secara lengkap. Kesemuanya dapat dibuktikan dari hadits-hadits manasik yang dapat kita baca dalam kitab-kitab ulama. Hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Imam Muslim adalah riwayat terkenal dan terlengkap yang menceritakan manasik Rasulullah dari awal sampai akhir.

Tugas kita semua sekarang adalah mengikuti sunnah Rasulullah dalam manasik haji dan dalam semua amal ibadah, sesuai tata cara yang disampaikan oleh para sahabat beliau, tanpa mengurangi atau menambah-nambahi.

Bersambung ….

Tanggapan (0)
Tambah tanggapan