Fitnah Al-Ghurbah (Keterasingan)

Sedikit Dari Yang Sedikit

Saudaraku, Bila kita melihat hakikat manusia yang hidup di muka bumi ini dari berbagai suku dan bangsa, kemudian kita mengklasifikasikan mereka berdasarkan keimanan kepada Allah Azza wa Jalla dan agama yang diridhai-Nya, maka secara global semuanya terbagi ke dalam dua kelompok utama: yakni mukmin dan kafir.

Allah Ta’ala berfirman:

Dialah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. (QS. At-Taghabun: 2).

Barangkali ada yang bertanya, jika manusia hanya terbagi kepada dua golongan; mukmin dan kafir, maka di manakah posisi kaum munafik, padahal banyak  ayat dan hadits yang menjelaskan tentang mereka?

Perlu diketahui bahwa hakikat kaum munafik ada dua: Pertama orang yang menyembunyikan kekafiran dalam hatinya dan menampakkan keimanan pada lahiriahnya, maka pada hakikatnya dia adalah kafir. Kedua seorang yang beriman dalam hati, hanya saja ia sering melakukan amalan orang-orang munafik, maka pada hakikatnya ia adalah mukmin, hanya saja derajat keimanannya semakin berkurang dengan semakin besarnya kemunafikannya.

Kemudian kaum mukminin dalam kualitas ketaatannya kepada Allah dan Rasulullah terbagi kepada tiga kelompok, sesuai firman Allah Azza wa Jalla:

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS. Fathir: 32).

Ayat ini menjelaskan bahwa muslim yang benar-benar konsisten dengan ajaran agama Islam jauh lebih sedikit dari pada mereka yang biasa-biasa saja, apalagi dari mereka yang cacat keislamannya karena meninggalkan kewajiban atau melanggar larangan.

Keterasingan Yang Pasti

Keterasingan seorang mukmin yang benar-benar berpegang teguh kepada ajaran agamanya bukanlah perkara baru, melainkan sebuah keniscayaan yang telah ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau:

“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali terasing, maka beruntunglah orang-orang yang asing.”([1])

Islam muncul di Kota Mekkah dan di awal fase Madinah -paska hijrah- sebagai agama yang asing, hanya sedikit orang yang menganutnya dan banyak yang menentangnya. Kemudian berkat rahmat Allah, kemudian dakwah yang berkesinambungan, Islam menjadi agama internasional dan memimpin peradaban dunia berabad-abad lamanya. Kini, kaum muslimin sejati kembali merasa terasing, bukan hanya di tengah miliaran penduduk dunia, namun juga di tengah komunitas muslimin sendiri.

Realita ini menunjukkan bahwa faktor kuantitas tidak berpengaruh signifikan dalam keterasingan tersebut. Penduduk dunia saat ini diperkirakan berkisar 7,6 miliar sedangkan kaum muslimin diperkirakan berjumlah 1,5 miliar([2]), artinya sekitar 19,7% dari penduduk dunia adalah muslim. Jumlah orang-orang kafir di dunia memang lebih besar dari pada kaum mukmin, akan tetapi meski sebagian kaum muslimin mayoritas di sebuah negara, namun mereka tetap merasa terasing.

Banyak faktor penting yang menambah dalam keterasingan seorang mukmin selain minimnya jumlah, di antara faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Keterasingan akidah. Muslim yang berpegang teguh dengan manhaj ahlus sunnah waljama’ah seperti pendahulu umat sangat minim. Sebaliknya kesyirikan, khurafat dan bid’ah merebak luas di tengah mayoritas kaum muslimin dunia.
  2. Keterasingan syariat Islam. Hampir seluruh negara Islam dunia menerapkan hukum dan perundangan selain syariat Islam, hingga saat isu penerapan syariat Islam diangkat ke publik banyak kaum muslimin yang menolak, bahkan mereka yang dianggap tokoh atau figur agama.
  3. Keterasingan akibat rendahnya konsistensi terhadap ajaran Islam. Orang yang konsisten terhadap ajaran Islam yang benar seperti menggenggam bara api, jika dilepas lepaslah agamanya, jika kuat menahan tangan yang terbakar.
  4. Memudarnya akhlak islami di tengah fatamorgana etika kafir Barat. Muslim yang konsisten dengan akhlak Islam dipandang kolot dan ketinggalan zaman, sementara mereka yang mengikuti gaya Barat dianggap modern dan menjadi suri teladan.
  5. Keterasingan da’i. Para da’i dan aktifis Islam diserang dari berbagai penjuru, aktivitas dakwah dikriminalisasi dan rentan dibubarkan, sebaliknya acara-acara yang merusak agama, akhlak dan psikologi muslim/muslimah dan generasi didukung dengan berbagai cara.
  6. Keterasingan al-wala’ dan al-bara’. Loyalitas mayoritas kaum muslimin tidak lagi berdasarkan cinta dan benci karena Allah serta agama-Nya, namun berubah ke loyalitas duniawi dan materi semata.
  7. Keterasingan ulama. Ulama rabbani kini bagai mutiara langka, sebaliknya orang-orang yang dengan berani menobatkan diri sebagai ulama kian banyak.

Badai Fitnah pun Menerpa

Tatkala keterasingan melanda kaum muslimin, maka badai fitnah pun menerpa dari segala penjuru:

  1. Syubhat.

Di zaman keterasingan kaum muslimin dihadapkan dengan fitnah syubhat yang menyerang dengan dahsyat, baik berkaitan dengan akidah, ibadah maupun pelanggaran syariat lainnya, semuanya dibungkus dengan lebel ‘islami’ atau dalil-dalil syar’i yang telah didistorsi atau diamputasi.

  1. Syahwat.

Alpanya hukum syariat, terbuka lebarnya pintu kesenangan dunia, dan minimnya mukminin yang konsisten dengan kebenaran, menyebabkan mayoritas manusia terjebak dalam lumpur syahwat, bahkan sebagian besar rela melepaskan keyakinan, meninggalkan kewajiban agama dan melakukan perkara yang diharamkan.

  1. Putus asa.

Melihat kondisi kaum muslimin dunia yang semakin terpuruk, apalagi perang dan krisis kemanusiaan umumnya menimpa negara mayoritas muslim, membuat sebagian umat merasa putus asa, dan meninggalkan usaha dakwah dan perjuangan.

  1. Tergesa.

Sebaliknya, sebagian lain tidak sabar dan tergesa-gesa mengambil keputusan, sehingga memilih perang frontal melawan oknum yang tidak disenangi, tanpa menimbang maslahat dan mafsadat yang dapat timbul kemudian, akibatnya mafsadat lebih besar menimpa kaum muslimin yang sudah terasing.

Orang-orang Terasing Yang Beruntung

Semua perkara yang menimpa seorang mukmin adalah kebaikan baginya, jika ditimpa kesusahan dia bersabar, dan jika mendapat kenikmatan dia bersyukur. Keterasingan agama Allah dan syariat-Nya di akhir zaman adalah keniscayaan yang tak dapat dipungkiri. Sehingga ia tetap tegar dan semangat  menggenggam kebenaran, senantiasa optimis dan konsisten dalam mengajarkan kebaikan.

Imam Al-Auza’i berkata: “Ketahuilah, bahwa Islam tidak akan sirna, akan tetapi ahlus sunnahlah yang langka, hingga (pada suatu masa) tidak tersisa darinya dalam suatu negeri kecuali hanya seorang.” ([3])

Dalam kondisi ini, seorang mukmin sejati tetap berjuang memperbaiki dirinya dan memperbaiki orang-orang di sekitarnya. Ia tidak berpangku tangan apalagi menyerah dengan keadaan.  

Ibn Rajab al-Hanbali berkata: “Kaum terasing tersebut terbagi dua, pertama golongan yang memperbaiki kesalehan dirinya saat manusia lain rusak, dan kedua golongan yang berjuang memperbaiki kerusakan yang diperbuat manusia, dan golongan kedua inilah lebih mulia.” ([4])

Jika demikianlah adanya, maka seorang mukmin walaupun terasing di tengah ramainya manusia, ia tetap bahagia, hatinya tak merasa sedih meski mayoritas manusia menyelisihinya. Hatinya tenang dan tenteram, karena yakin bahwa Allah bersama hamba-Nya yang beriman. Yang terpenting, bahwa ia tetap berjuang menyampaikan kebenaran dan mengajarkan manusia agama Allah dan sunnah Rasulullah.

____________________________

([1]) HR. Muslim, no. 145.

([2]) http://tumoutounews.com/2017/08/25/download-jumlah-penduduk-dunia-tahun-2017 /

([3]) Ibn Rajab al-Hanbali, Kasyful Kurbah Fi Washfi Hal Ahlil Ghurbah, hal. 28-29

([4]) Kasyful Ghurbah, hal. 32

islamkonsistenkualitassyariat islamulamazaman
Tanggapan (0)
Tambah tanggapan