Cinta Ulama

Mencintai dan menghormati para ulama -baik yang sudah wafat maupun yang masih hidup- merupakan kewajiban bagi setiap muslim, terkhusus para penuntut ilmu. Islam telah menganjurkan sikap mulia ini dalam Al-Quran maupun sunah Rasul. Thawus bin Kaisan rahimahullah berkata: “Merupakan sunah sikap memuliakan para ulama.” (Jaami’ Bayaanil-‘Ilmi: 1/459).

Sikap memuliakan ulama ini bahkan ditunjukkan oleh Nabi sekelas Musa ‘alaihissalam tatkala meminta kepada Nabi Khadhir ‘alaihissalam agar mengajarinya ilmu yang ia miliki, padahal Musa lebih utama darinya. Musa berkata kepadanya:

قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

Artinya: “Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS Al-Kahfi: 66)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata mengenai ayat ini: “Musa ‘alaihissalam lalu berbicara kepadanya dengan ucapan yang lemah lembut dan meminta persetujuan darinya; apakah engkau (wahai Khadhir) setuju atau tidak? … Jadi, bersikap tawadhu’ kepada seorang guru dan menampakkan kebutuhan kita pada ilmunya merupakan hal yang sangat bermanfaat bagi seorang penuntut ilmu.” (Tafsir As-Sa’di: 484).

Para ulama rahimahumullah adalah para figur yang wajib dicintai dan dimuliakan, karena hal itu merupakan bentuk penghargaan terhadap ilmu agama yang ada dalam dada mereka. Merekalah para pewaris para nabi, sebagaimana dalam hadis:

العلماء ورثة الأنبياء وإن الأنبياء لم يُوَرِّثوا دينارًا ولا درهمًا، وإنما وَرَّثوا العلم، فمن أخذه أخذ بحظ وافر

Artinya: “Ulama adalah pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham (kekayaan), sebaliknya mereka mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya (ilmu) maka dia telah mengambil keuntungan yang banyak.” (HR Abu Daud: )

Mencintai mereka merupakan salah satu faktor masuk ke dalam surga, karena di akhirat kelak seseorang akan dibangkitkan dengan orang-orang yang ia cintai secara benar dan hakiki. Dalam hadis Anas yang sahih disebutkan:

 جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ: “يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ؟” قَالَ:  وَمَا أَعْدَدْتَ لِلسَّاعَةِ ؟. قَالَ: “حُبَّ اللَّهِ وَرَسُولِهِ”. قَالَ: ”  فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ “. 

Artinya: “Pernah seorang lelaki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dia bertanya: “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?”, Beliau bersabda: “Apa yang kamu telah siapkan untuk hari kiamat”, Orang tersebut menjawab: “Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya”, Beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai” (HR Muslim: ). (Lihat: Ar-Rihlah fi Thalabil-‘Ilmi: 118).

Di antara bentuk cinta kepada mereka adalah selalu mendoakan mereka, utamanya ulama dan para dai yang menjadi guru-guru kita. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ  

Artinya: “Siapa yang berbuat kebaikan kepada kalian maka balaslah, jika ia tidak mendapati sesuatu untuk membalasnya, maka doakanlah ia, sampai kalian melihat bahwa kalian sudah membalasnya” (HR Abu Daud: 1673, dan Tirmizi: 2567, hasan).

Perkara urgen yang wajib dijauhi oleh seorang muslim atau penuntut ilmu adalah menjelek-jelekkan kehormatan dan mencari-cari kesalahan para ulama, karena mereka adalah orang-orang mulia yang diagungkan oleh Allah Ta’ala:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (QS Al-Mujadilah: 11).

Mereka juga adalah para wali-wali Allah yang Dia muliakan dalam firman-Nya dalam hadis qudsi:

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ

Artinya: siapa memusuhi waliku maka Aku mengumumkan perang terhadapnya”. (HR Bukhari: 6137).

Imam Ibnu Asakir rahimahullah telah memperingatkan bahaya menjatuhkan kehormatan para ulama ini dalam nasihat populernya: “Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah memberi taufiq kepadaku dan kepadamu untuk menggapai ridha-Nya dan menjadikan kita termasuk orang yang takut dan bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar ketakwaan: Sesungguhnya daging para ulama itu beracun. Kebiasaan Allah yang membongkar aib orang-orang yang merendahkan mereka telah diketahui. Siapa yang enteng melepaskan lisannya untuk memburukkan ulama, maka Allah akan memberi bala’ kepadanya sebelum kematian dengan kematian hati”. (Al-Majmu fi Syarhi Al-Muhadzdzab: 1/24)

Selain itu, membicarakan kehormatan para ulama hanya menghabiskan waktu pada hal yang sia-sia bahkan dosa, juga merupakan jenis gibah yang amat berat, karena menggibah dan merendahkan mereka, secara tidak langsung adalah bentuk merendahkan ilmu yang mereka miliki, padahal Allah Ta’ala telah memuliakan mereka dengan faktor adanya ilmu yang ada dalam dada mereka tersebut.

Para ulama tentunya manusia biasa yang bisa benar dan bisa salah. Tapi, kesalahan mereka sebagai manusia biasa tidak boleh menjatuhkan wibawa mereka di mata kita. Betapa indah untaian kata Sa’id bin Musayyib rahimahullah yang dinukil oleh Imam As-Sakhawi:

ليس من عالم ولا شريف ولا ذي فضل إلاّ وفيه عيب، ولكن من الناس من لا ينبغي أن تذكر عيوبه، فمن كان فضله أكثر من نقصه وهب نقصه لفضله 

Artinya: “Tidaklah seorang alim, tidaklah seorang yang memiliki kedudukan dan tidak pula yang memiliki kemuliaan kecuali ada padanya aib, akan tetapi di antara manusia ada yang tidak boleh disebarkan aib-aibnya. Siapa yang memiliki kebaikan lebih banyak dari kekurangannya maka kekurangan itu dianggap tidak ada karena kemuliaannya yang banyak itu.” (Al-I’laan bi At-Taubiikh: 118).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga mengingatkan: “Tidak boleh seorang pun mencari-cari kesalahan para ulama, sebagaimana ia juga tidak boleh membicarakan ahli ilmu dan ahli iman kecuali dengan kata-kata yang pantas baginya, karena Allah Ta’ala telah memaafkan orang-orang mukmin pada perkara yang mereka tersalah (karena ijtihadnya), sebagaimana firman-Nya:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ 

Artinya: “(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (QS Al-Baqarah: 286). (Majmu’ Al-Fatawa: 32/239)

Doa-doa para ulama sangatlah mustajab di sisi Allah, kita khawatir bila sedikit saja menyinggung perasaan mereka, Allah akan mengabulkan doa tersebut. Al-Hasan bin Sufyan rahimahullah berkata: “Bertakwalah kepada Allah (dalam bergaul) dengan para masyaikh (ulama dan dai), karena boleh jadi akan ada doa (mereka) yang dikabulkan Allah (untuk kebinasaanmu).” (As-Siyar: 14/159).

Terakhir, kita mesti menyelami doa perlindungan Imam Ibnu Abdil-Barr rahimahullah dari sebagian umat di masanya yang suka menjelek-jelekkan ulama mereka. Beliau berkata:

إلى الله الشكوى وهو المستعان على أمة نحن بين أظهرها، تستحل الأعراض والدماء، إذا خولفت فيما تجيء به من الأخطاء

Artinya: “Hanya kepada Allahlah aku mengadukan keluhanku, dan hanya Dialah yang memberikan kita perlindungan dari umat yang kita hidup di tengah-tengah mereka di mana mereka menghalalkan kehormatan dan darah (kaum muslimin) bila mereka diselisihi dalam perkara yang mereka tersalah di dalamnya.” (At-Tamhid: 14/344).

Tanggapan (0)
Tambah tanggapan