TAUBAT NASUHA

Di setiap saat kita dianjurkan untuk memohon ampun kepada Allah dan bertaubat, namun di bulan Ramadhan anjuran ini lebih ditekankan, karena kemuliaan dan kedudukan bulan ini. Pintu-pintu surga terbuka lebar, sementara pintu-pintu neraka tertutup rapat, setan pun terbelenggu. Selain itu, orang muslim di bulan ini terkondisikan untuk beramal saleh, mereka puasa di siang hari dan shalat tarawih di malam hari, sehingga sangat mendukung proses taubat dari segala dosa yang pernah dilakukan. Ramadhan sendiri berfungsi sebagai penghapus dosa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Shalat lima waktu, shalat Jumat ke shalat Jumat berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa yang dilakukan disela-selanya jika dosa-dosa besar ditinggalkan.” [HR. Muslim]

Luasnya Ampunan Allah Subhanahu Wata’ala

Allah memiliki nama Al-Ghafur ‘Maha Pengampun’, yang berarti memiliki ampunan yang luas bagi hamba-Nya, asal ia mau memintanya dari Allah. Dalam menerangkan luasnya ampunan Allah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meriwayatkan hadits qudsi:

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Allah berfirman, ‘Wahai anak Adam, selama engkau berdoa dan mengharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni segala apa yang pernah kau lakukan, dan Aku tidak peduli (banyaknya). Wahai anak Adam, seandainya dosamu mencapai langit lalu engkau memohon ampun kepada-Ku, maka akan Aku ampuni, dan Aku tidak peduli (banyaknya). Wahai anak Adam, jika engkau datang kepada-Ku dengan kesalahan sebesar bumi lalu engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sebesar itu pula.’” [HR. Tirmidzi, shahih]

Senada dengan hadits qudsi di atas, Allah berfirman dalam Al Quran yang artinya:

“Katakan (wahai Muhammad), wahai umatku yang menzalimi diri mereka dengan dosa, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang. Kembalilah kalian kepada Rabb kalian dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang siksa kepada kalian lalu kalian tidak ditolong.” [QS. Az-Zumar: 53-54]

Jika ampunan Allah sedemikian luasnya, lalu kita tidak mendapatkannya, maka berarti kita sangat kelewatan dalam durhaka kepada Allah, atau terlalu sombong tidak mau mendekat dan memohon kepada-Nya.

Syarat Taubat

Taubat nasuha atau taubat yang tulus memiliki beberapa syarat yang harus dipenuhi. Syarat tersebut di antaranya:

  1. Ikhlas karena Allah, bukan karena menginginkan pujian manusia.
  2. Pada waktu yang memungkinkan, bukan pada saat sekarat atau ketika matahari terbit dari arah barat.
  3. Meninggalkan dosa.
  4. Menyesali dosa yang pernah dilakukannya.
  5. Berniat kuat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa.
  6. Mengembalikan hak orang lain jika dosa yang ia lakukan berkaitan dengan hak orang lain.

Orang yang mengaku bertaubat namun tidak memenuhi persyaratan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ia sedang main-main dalam taubatnya. Ini yang sering disebut dengan taubat sambal; kepedasan tetapi di waktu lain ia memakannya lagi padahal tahu bahwa ia nanti akan kepedasan lagi.

Tanda Taubat Diterima

Jika taubat harus memenuhi syarat agar diterima, maka berarti ada taubat yang tidak diterima oleh Allah. Orang yang bertaubat pantas untuk memiliki kekhawatiran ini. Ya, saat berdoa memohon ampunan Allah, dia harus yakin bahwa Allah akan mengabulkan permohonannya, yaitu dengan sungguh-sungguh dalam taubatnya dan menghindari hal-hal yang dapat menghalangi penerimaannya. Namun di sisi lain dia juga perlu menyelipkan rasa takut akan azab Allah karena dosa yang dia lakukan.

Taubat yang diterima akan terlihat dari baiknya amalan sesudahnya. Karena sebuah kebaikan akan selalu mengajak saudara-saudaranya dari kebaikan yang lain. Allah berfirman yang artinya:

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambahkan petunjuk untuk mereka dan menganugerahkan ketakwaan kepada mereka.” [QS. Muhammad: 17]

Para ulama berkata bahwa takwa itu seperti orang yang berjalan di antara duri-duri, sangat berhati-hati dalam melangkah agar tidak tertusuk oleh salah satunya.

Kiat Taubat Nasuha

Di antara kiat agar kita dapat melaksanakan taubat nasuha adalah:

  1. Memohon pertolongan Allah, karena Dialah yang Maha membolak-balikkan hati manusia.
  2. Mengganti teman yang buruk dengan teman yang saleh. Fungsinya untuk mengingatkan kita saat lalai dan memotivasi kita untuk berbuat baik.
  3. Mengingat mati yang bisa datang kapan saja.
  4. Membayangkan dahsyatnya hari kiamat dan siksa api neraka.
  5. Merenungkan sifat Maha melihat dan Maha mendengar Allah.
  6. Pindah tempat tinggal jika lingkungannya tidak mendukung taubatnya.

Pahala bagi Orang yang Bertaubat

Karena agungnya ibadah taubat ini, Allah Subhanahu wata’ala menyiapkan pahala yang tidak sederhana. Dari beberapa ayat al-Quran disimpulkan bahwa pahala tersebut di antaranya:

  1. [QS. An-Nur: 31]
  2. Dosanya dihapus. [QS. At-Tahrim: 8]
  3. Kesalahannya diganti dengan kebaikan. [QS. Al-Furqan: 70]
  4. Rezeki yang baik, hujan, ditambahkan kekuatan, harta, dan keturunan. [QS. Hud: 3 dan 52, Nuh: 10-12]
  5. Cinta Allah. [QS. Al-Baqarah: 222]

Berpuasa Tetapi Tidak Mendapatkan Ampunan

Suatu ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menaiki mimbar kemudian bersabda, “Amin, Amin, Amin.” Karena merasa tidak paham dengan maksud perkataan beliau ini para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami mendengar engkau mengucapkan Amin tiga kali, apa (maksud) yang kami dengar ini?” Begitulah kebiasaan para sahabat yang selalu ingin tahu tentang kebaikan dari Sang Rasul. Lalu beliau pun menerangkannya dengan sabdanya:

لَمَّا رَقِيتُ الدَّرَجَةَ الْأُولَى جَاءَنِي جِبْرِيلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ، فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَقُلْتُ: آمِينَ. ثُمَّ قَالَ: شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ، فَقُلْتُ: آمِينَ. ثُمَّ قَالَ: شَقِيَ عَبْدٌ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ، فَقُلْتُ: آمِينَ

“Ketika aku naik ke tangga pertama Jibril datang kepadaku dan mengatakan, ‘Sengsara seorang hamba yang telah memasuki bulan Ramadhan dan berlalu namun dosanya belum diampuni.’ Kemudian aku berkata, ‘Amin’. Jibril berkata lagi, ‘Sengsara seorang hamba yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah satunya (masih hidup) namun hal itu tidak membuatnya masuk surga.’ Maka aku berkata, ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi, ‘Sengsara seorang hamba yang (namamu) disebutkan padanya namun ia tidak mengucapkan salawat kepadamu.’ Aku pun berkata, ‘Amin’”. [HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, shahih]

Ya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan kesengsaraan bagi mereka yang tidak memanfaatkan Ramadhan untuk bertaubat dari dosa-dosa. Tentu kita tidak menginginkan itu. Oleh karenanya, Ramadhan kali ini harus kita maksimalkan untuk membersihkan diri dari segala khilaf, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia. 

You might also like More from author

Leave a comment
k