Sedekah Di Bulan Suci

Bulan Ramadhan merupakan bulan di mana Allah telah menyiapkan di dalamnya banyak sekali kesempatan emas. Tidak seperti bulan lainnya di sepanjang tahun, di bulan itu banyak sekali amal saleh yang dapat kita maksimalkan untuk mendapatkan pahala yang berlipat ganda, di antaranya adalah ibadah sedekah.

Sedekah memiliki dua makna yaitu makna umum dan makna khusus.  Makna sedekah secara umum mencakup semua kebaikan; mengantarkan orang lain dengan kendaraan kita adalah sedekah, membantu orang lain dengan tenaga kita adalah sedekah, berkata yang baik juga sedekah, bahkan senyum pun sedekah. Adapun makna khusus adalah bersedekah dengan harta benda yang kita miliki dan inilah yang akan menjadi pokok bahasan dalam tulisan ini dengan ijin Allah.

Apa korelasi antara sedekah dan puasa Ramadhan?

Korelasinya akan tampak jelas pada sisi penyucian hati dan jiwa. Kita tahu bahwa di dalam diri manusia ada hawa nafsu, dan nafsu ini salah satu sifatnya adalah menyeru kepada hal-hal yang buruk, salah satunya adalah sifat tamak dan rakus, sifat ingin mendapatkan apapun yang diinginkan sebebas-bebasnya tanpa batasan dan ukuran. Kalau ini diperturutkan, maka manusia akan terjerumus ke dalam kenistaan dan dosa. Di sinilah peran puasa khususnya puasa Ramadhan, di mana saat berpuasa manusia diharuskan menahan dan mengendalikan kehendak dan keinginan hawa nafsunya, sehingga ia akan terdidik menjadi insan yang takwa.

Di sisi lain manusia juga pada dasarnya enggan dan berat untuk berkorban, khususnya mengorbankan hal-hal yang ia senangi. Dengan ibadah sedekah, sifat ini akan terkikis, sehingga ia akan menjadi insan yang ringan untuk bederma, berbagi dengan orang lain, dan Allah pun telah menyiapkan pahala dan ganjaran yang sangat banyak untuk mereka yang dapat menaklukkan sifat kikir pada dirinya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [QS. Al-Hasyr: 9]

Apa keutamaan sedekah di bulan Ramadhan?

Bersedekah di bulan Ramadhan sangatlah banyak keutamaan dan faedahnya, baik itu untuk orang yang bersedekah, orang yang menerimanya, dan masyarakat secara umum. Di antara keutamaan tersebut adalah:

  1. Pada bulan Ramadhan Allah Ta’ala menebarkan rahmat dan kasih sayang-Nya untuk para hamba-Nya, begitu pula ampunan serta pembebasan dari siksa neraka, maka bagi siapa saja di antara para hamba-Nya yang mengasihi fakir miskin di bulan ini sungguh Allah akan mengasihi, merahmati, dan melapangkan rezekinya.
  2. Barang siapa yang dapat memadukan antara puasa dan sedekah, maka itu merupakan kunci surga baginya sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh di surga terdapat ruangan-ruangan yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar. Sahabat bertanya: Untuk siapakah ruangan-ruangan itu wahai Rasulullah? Jawab beliau:

“Untuk siapa saja yang berkata baik, memberi makan, selalu berpuasa dan shalat malam ketika orang-orang dalam keadaan tidur.” [HR. Ahmad dan Tirmidzi, hasan].

Puasa dan sedekah merupakan penggugur dosa dan pelindung dari panasnya api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa puasa adalah perisai, yaitu perisai pelindung dari panasnya api neraka, dan beliau juga berkata tentang sedekah:

“Berlindunglah kalian dari api neraka walaupun dengan separuh buah kurma.” [HR. Bukhari dan Muslim]

  1. Puasa dan sedekah dapat menumbuhkan sikap solidaritas antar sesama anggota masyarakat, di berbagai lapisan mereka. Dengan puasa si kaya dapat merasakan kelaparan yang dirasakan oleh si miskin, dan dengan sedekah orang miskin pun bisa terbantu sehingga tidak lagi merasa sedih dan iri kepada si kaya.

Bagaimana bentuk sedekah yang lebih utama?

Semua jenis sedekah adalah baik dan ibadah bila dilakukan oleh seorang hamba dengan ikhlas karena Allah semata, di sepanjang waktu, apalagi di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Namun ada beberapa bentuk sedekah yang lebih utama dari yang lainnya, di antaranya:

  1. Sedekah yang dilakukan secara tersembunyi, karena ini lebih membantu kita untuk menjaga hati dan keikhlasan dari pada sedekah yang diumumkan, sebagaimana Allah berfirman yang artinya:

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.” [QS. Al-Baqarah: 271]

Hal ini juga dikuatkan oleh hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyatakah bahwa salah satu golongan manusia yang mendapatkan naungan dari Allah padi hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan Allah adalah mereka yang bersedekah dengan diam-diam, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. [HR. Bukhari dan Muslim]

  1. Sedekah yang dilakukan di saat masih sehat dan kuat lebih utama dari pada sedekah dalam keadaan sakit atau sekarat, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Engkau (seharusnya)  bersedekah ketika kamu masih sehat, rakus dengan dunia, takut miskin, dan bercita-cita menjadi orang kaya. Jangan tunda sedekah sampai ruh berada di kerongkongan, kemudian kamu mengatakan: ‘Untuk si A sekian, si B sekian, padahal sudah menjadi milik orang lain (yakni ahli warisnya).” [HR. Bukhari dan Muslim]

  1. Infak dan sedekah untuk keluarga dan kerabat lebih utama dari sedekah sunnah kepada yang lainnya, sebagaimana sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

“Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan untuk orang miskin, dan satu dinar yang engkau infakkan untuk keluargamu, sungguh (dari keempat infak tadi) yang lebih utama adalah yang engkau infakkan untuk keluargamu.” [HR. Muslim]

Mengapa demikian? Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa di antara keluarga itu ada yang wajib dinafkahi, bahkan yang sunnah sekalipun tetap utama karena nilainya selain sedekah juga sebagai penyambung silaturahmi dan jalinan kekerabatan. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengancam siapa saja yang menyia-nyiakan keluarganya dalam hal nafkah, maka ia telah berdosa besar.

  1. Sedekah yang berkelanjutan pahalanya, dalam istilah Islam disebut sebagai sedekah jariah, karena jelas pahala sedekah ini akan terus mengalir walaupun orang yang bersedekah itu telah tiada. Bentuk-bentuknya sangatlah banyak, contohnya bisa dengan membangun sumur dan fasilitas air bersih untuk kepentingan masyarakat umum, membangun mesjid (kalau belum mampu untuk membangun satu buah mesjid secara utuh, bisa dengan membangun sebagian atau membantu pembangunan mesjid berapa pun nilainya), membantu proyek-proyek pendidikan Islam dan masih banyak lagi.

Catatan akhir

Ada dua hal yang sangat penting untuk kita perhatikan bersama:

  1. Sedekah di sisi Allah itu bukanlah karena berapa jumlahnya, tapi yang terpenting adalah sedekah yang dilakukan secara berkesinambungan sekalipun jumlahnya sedikit di mata manusia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sungguh amal yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang bersifat terus menerus walaupun jumlahnya sedikit.” [HR. Bukhari Muslim]

Maka mari kita lihat dan ukur kemampuan finansial kita masing-masing berapa yang kita mampu untuk sedekahkan, kemudian kita susun jadwal kapan saja kita akan mengeluarkan sedekah kita ini, apakah per hari atau per pekan, lalu kita jalankan jadwal ini dengan memohon pertolongan dari Allah Ta’ala agar dikuatkan untuk istiqamah.

  1. Jagalah keikhlasan dan bentengi hati dari segala hal yang dapat merusak nilai sedekah yang telah kita keluarkan, karena kalau tidak, maka sedekah kita akan sia-sia. Bersedekah karena ingin dilihat dan dipuji orang lain (riya’), bersedekah kemudian berkata kasar kepada orang yang disedekahi (al-adza), atau bersedekah kemudian menyebut-nyebut lagi sedekah yang telah dilakukan (al-mann) semua ini dapat menjadikan sedekah menjadi sia-sia, bagaikan batu yang licin kemudian diletakkan di atasnya debu selang beberapa saat turun hujan yang sangat deras, bayangkan apa yang akan terjadi pada debu itu? Itulah gambaran sedekah yang sia-sia.

Semoga Allah Ta’ala selalu memberi kita taufik agar dimudahkan untuk selalu beramal saleh, khususnya di bulan Ramadhan yang penuh berkah, Amin.

You might also like More from author

Leave a comment
k