Saat Allah menutupi kita

Dzat yang paling lembut interaksinya kepada kita adalah Allah. Barangkali ada di antara kita yang ingin sekali bermaksiat, lalu berusaha untuk melaksanakan niat buruknya itu, dan Allah tidak menahannya. Jika Allah mau, sangat mudah bagiNya mengutus salah satu tentaraNya untuk menghadang jalannya sehingga ia tidak bisa melakukannya. Namun Allah yang Mahasantun dan Mahasabar membiarkannya melakukan itu.

Tidak hanya sampai di situ, saat hamba ini benar-benar melakukan maksiat, Allah menutupinya dan menghalangi orang untuk melihatnya. Ya, agar ia tidak dipermalukan di depan umum. Ini karena sifat kasih sayang Allah.

Setelah hamba ini selesai bermaksiat, Allah mengajaknya untuk kembali ke jalan yang benar. Bahkan Allah akan mengganjarnya dengan mengubah kesalahannya menjadi kebaikan. Sungguh tidak akan kita temukan selain Allah yang bisa melakukan ini semua.

Jika hamba ini masih juga tidak mau bertaubat, Allah akan memberinya waktu, tak jarang sampai bertahun-tahun agar dia mau kembali kepada Tuhannya dan bertaubat kepadaNya. Hal ini Allah lakukan setiap hari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Sesungguhnya Allah membentangkan tanganNya di waktu malam agar pendosa di siang hari bertaubat, dan Allah membentangkan tanganNya di waktu siang agar pendosa di malam hari bertaubat.” (HR. Muslim)

Manakala pada suatu saat hamba ini kembali kepada Allah, maka Dia akan sangat gembira melebihi kegembiraan hamba itu sendiri. Mahasuci Allah, Dzat yang merajai segala raja namun gembira saat seorang hamba kembali kepadaNya, padahal hamba itu yang sebenarnya membutuhkanNya. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mencintai Rabb yang demikian cara interaksiNya. Karenanya, Allah menamai diriNya dengan nama Al-Wadud (yang Mahacinta), tiada sesuatu pun yang menyamaiNya.

Bagaimana kita berinteraksi dengan Allah saat Dia menutupi kita?

Allah sering kali menutupi kita, lalu apa yang harus kita lakukan saat Allah menutupi kita? Pertama-tama: menerima “hadiah” Allah ini. Ya, Allah menutupi kita saat melakukan kemaksiatan merupakan hadiah besar untuk kita. Karena ada juga orang yang tidak ditutupi oleh Allah. Maka sepantasnya kita menerima hadiah ini dan tidak menolaknya. Mungkin ada orang yang bertanya, “Bagaimana mungkin kita bisa menolak atau mengembalikan hadiah ini?” Jawabannya seperti yang kita lihat pada sebagian orang, ia membuka aib dosanya sendiri kepada orang lain. Orang seperti ini tidak memiliki sopan santun kepada Allah. Dan apa juga manfaat yang akan dia dapatkan dari prilakunya ini.

Anehnya, ada sebagian orang bercerita tentang dosanya setelah sekian tahun, yang bisa jadi dia sendiri sudah bertaubat di masa kecil atau masa remajanya, padahal Allah telah menutupinya. Ada pula yang beralasan bahwa orang-orang juga menceritakan masa lalu mereka. Ini adalah alasan yang sulit diterima. Jika kita pergi ke sebuah negara yang penduduknya mengumbar aurat, akankah kita juga akan melakukan hal yang sama? Tentu tidak. Kalau kita harus menutupi aurat jasad kita, maka sudah barang tentu kita juga harus menutup aurat jiwa kita. Bahkan lebih penting. Dari sini kita bisa merasakan betapa santun dan sabarnya Allah SWT.

Kala seorang hamba berbuat kesalahan kepadaNya, Allah yang Mahakuat ini membalasnya dengan sikap yang unik. Allah tidak mengusiknya, tidak pula membuka tabir yang menutupi aibnya. Sementara hamba ini justru menambah kesalahannya dengan cara menolak hadiahNya dan dengan bangga menceritakan dosa itu ke rekan-rekannya. Apa kiranya yang akan menimpa orang yang semacam ini? Ya, Allah akan melakukan yang setimpal dengan perbuatannya.

Kalaulah ada orang yang berbuat mesum, ketika orang-orang ingin menghukumnya datang orang baik hati melindunginya dan memasukkannya ke rumahnya. Tiba-tiba orang keji ini justru menyebarkan foto mesumnya di media sosial yang dimilikinya. Tentu orang baik hati itu akan mengusirnya dari rumah itu. Ini wajar dilakukan karena sikapnya memang sudah kelewatan. Nah, jika sikap ini ia lakukan terhadap Allah yang Mahasantun lagi Mahamulia, maka pantas bila Allah akan memaafkan semua pendosa kecuali orang ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا المُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

“Semua umatku akan dimaafkan (dosanya) kecuali orang yang menampakkannya. Termasuk menampakkan dosa ialah bila seseorang melakukan dosa pada malam hari dan pada pagi harinya -padahal Allah telah menutupinya- berkata, “Wahai Fulan, aku telah melakukan ini dan itu tadi malam.” Padahal semalaman Tuhannya telah menutupinya, di pagi harinya ia justru membuka tutup Allah itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua: di antara sikap yang perlu kita miliki saat Allah menutupi kita ialah menaati Allah dalam kesendirian kita sebagaimana kita telah bermaksiat dalam kesendirian kita. Dengan sedekah tersembunyi misalnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ صَدَقَةَ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

“Sesungguhnya sedekah tersembunyi itu bisa memadamkan murka Allah.” (HR. Thabrani)

Bisa juga dengan shalat beberapa rakaat di malam hari saat tidak ada orang yang melihat. Intinya, kita memiliki amalan tersembunyi yang berkesinambungan meski kecil. Meski hanya memberi makan seekor hewan misalnya, tetapi secara tersembunyi. Demikianlah para orang saleh menganjurkan agar kita memiliki amalan tersembunyi yang tidak diketahui oleh seorang pun, meski itu istri atau anggota keluarganya yang lain.

Ketiga: kita harus menjaga tutup Allah ini. Jangan sampai tutup Allah ini hanya bersifat sementara, lalu setelah setahun dua tahun dosa itu terbuka. Tutup ini harus berlanjut hingga akhir hayat kita. Caranya, kita berterima kasih kepada Allah atas tutup yang diberikanNya. Dengan ini Allah akan senantiasa menutupi aib dosa kita. Bahkan jika kita memerlukan tutupNya di kemudian hari, maka Allah akan memberikannya, bahkan bisa jadi akan menambahkannya. Allah berfirman:

“Ingatlah ketika Allah tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Cara lainnya, kita menutup aib hambaNya. Melakukan apa yang Allah lakukan kepada kita. Bahkan jika dia nonmuslim sekalipun jika kita mampu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا، إِلَّا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَة

“Tidaklah seorang hamba menutupi aib hamba di dunia melainkan Allah akan menutup aibnya di hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Bayangkan kita berdiri dilihat oleh seluruh manusia dari manusia pertama hingga manusia terakhir nanti, ada rasa takut menyelinap kiranya aib dosanya terkuak di hari kiamat ini, aib dosa yang ia sembunyikan selama hidupnya. Bayangkan untuk pertama kalinya kita bertemu dengan Nabi Adam, lalu aib kita terbuka di hadapannya. Untuk pertama kalinya melihat Nabi-nabi lainnya, termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan melihat dosa yang kita sembunyikan.

Dalam kondisi yang demikian, saat mungkin saja bagi Allah membuka atau menutupi dosa kita, tiba-tiba Allah memilih untuk menutupi kita seraya berkata:

إِنِّي سَتَرْتُ عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، فَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ اليَوْمَ

“Sesungguhnya Aku telah menutupimu di dunia, maka Aku mengampuni dosa itu untukmu pada hari ini.” (HR. Bukhari)

Lalu buku catatan amal diberikan dan kita terima dengan tangan kanan kita, kita beri kabar gembira kepada semua orang, “Ini, bacalah buku catatan amalku!” kemudian kita dimasukkan ke dalam surga tanpa ada seorang pun yang mengetahui dosa tersembunyi kita.

Mengapa Allah lakukan semua ini untuk kita? Karena kita berusaha sekuat tenaga untuk menutupi aib saudara kita meski setan bersikeras dalam membujuk kita. Di hari kiamat inilah kita memetik buah prilaku kita. Demi Allah, ini adalah perasaan terindah yang dirasakan oleh manusia. Semoga Allah menutupi aib dosa kita dan menganugerahkan kepada kita surga, Amin.

You might also like More from author

Leave a comment
k