Raihlah Rezekimu

Di antara nama-nama Allah yang indah dan mulia adalah Ar-Raaziq dan Ar-Razzaq, Nama Ar-Raaziq disebutkan 5 kali di dalam Al-Qur’an, salah satunya adalah firman Allah:

وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Artinya: ”Dan berilah kami rezeki, dan Engkau sebaik-baik Pemberi rezeki”. (QS. Al-Maidah: 113).

Sedangkan  Nama Ar-Razzaq disebutkan 1 kali, yaitu firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Artinya: ”Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh”. (QS. Adz-Dzariyat: 58).

Rezeki yang senantiasa mengalir kepada seluruh  makhluk hidup merupakan anugerah dari Allah –Azza wa Jalla-, Dialah yang menanggung seluruh kebutuhan makhlukNya dan menentukan setiap kadarnya bagi setiap jiwa, dan menjamin sampai rezeki tersebut kepada setiap yang berhak pada waktu pada yang telah ditentukan, hal ini merupakan salah satu makna dari nama Ar-Raaziq dan Ar-Razzaq.

Jenis-jenis rezeki

Rezeki terbagi menjadi 2 jenis:

Pertama: Rezeki Duniawi

Pengertian dari rezeki jenis ini adalah anugerah Allah kepada seluruh makhlukNya berupa kebutuhan duniawi, seperti: harta, istri, anak-anak, kendaraan, tempat tinggal, jabatan dsb. Rezeki jenis ini diberikan kepada seluruh makhluk tanpa pandang bulu, Allah memberikannya kepada seorang muslim, kafir, ustadz, penjahat, orang berkulit putih, hitam, ataupun merah dsb, Allah berfirman:

كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا

Artinya: “Semua makhluk Kami bagikan pemberian (rezeki) Rabbmu, dan Pemberian Rabbmu tidak dapat dihalangi“. (QS. Al-Isra’ 20).

Hasan Al-Bashri menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan: “Semua makhluk kami berikan kenikmatan dunia (harta dll), baik ia muslim ataupun kafir”.[1]

Bahkan Allah juga menanggung dan memberikan rezeki dan makanan kepada seluruh binatang yang ada di muka bumi ini, Allah berfirman:

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya: “Dan berapa banyak hewan yang tidak dapat mengurus rezekinya, Allah-lah yang mengurus dan memberikannya, dan juga (mengurus dan memberikan) kepadamu, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui“. (QS. Al-Ankabut: 60).

Olehnya, rezeki jenis ini bukanlah ukuran keutamaan dan kemuliaan makhluk di hadapan Allah, Allah berfirman:

فَأَمَّا الإنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِي ** وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِي **كَلَّا

Artinya: “Adapun manusia, apabila Allah mengujinya dengan kenikmatan dunia (harta dsb) maka ia mengatakan: sesungguhnya Allah telah memuliakanku#Dan apabila Allah mengujinya dengan menyempitkan rezekinya, maka ia mengatakan: sesungguhnya Allah telah menghinakanku#Sekali-kali tidak!!“. (QS. Al-Fajr 15-16).

Kedua: Rezeki Rohani

Yaitu kenikmatan Allah kepada hambaNya yang bermanfaat bagi “kesehatan” hati, berupa: ilmu syar’i, keimanan, ketakwaan, pemahaman yang benar (aqidah), ketaatan dsb. Allah berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Artinya: “Katakanlah, dengan karunia Allah dan RahmatNya, dengannya hendaknya kalian bergembira, sesungguhnya hal tersebut lebih baik daripada yang kalian kumpulkan“. (QS. Yunus: 58).

Ibnu Katsir menafsirkan kalimat (بفضل الله) dan (برحمته) dalam ayat di atas dengan mengatakan:”Maksudnya: dengan yang datang kepada mereka dari Allah berupa petunjuk dan agama yang benar, hendaknya mereka bergembira”.[2]

Imam Malik –rahimahullah- mengatakan:

إِنَّ اللهَ قَسَّمَ الأَعْمَالَ كَمَا قَسَّمَ الأَرْزَاقَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah membagikan amalan-amalan (kepada kalian) sebagaimana membagikan rezeki“.[3]

Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan:

إنَّ اللهَ تَعَالَى قَسَّمَ بَيْنَكُمْ أَخْلاَقَكُمْ، كَمَا قَسَّمَ بَيْنَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ.

Artinya: “Sesungguhnya Allah membagikan kepada kalian akhlak, sebagaimana Dia membagi rezekiNya kepada kalian“.[4]

Jika ditinjau dari perspektif lain, rezeki dibagi menjadi 2 jenis lagi, yaitu:

Pertama: Rezeki di Dunia.

Yaitu rezeki yang dinikmati oleh para hamba Allah ketika hidup di dunia, dan rezeki jenis ini mencakup 2 jenis rezeki yang telah dipaparkan di atas.

Kedua: Rezeki di Akhirat.

Maksudnya adalah kenikmatan yang Allah curahkan kepada para hambaNya yang di sholeh di Akhirat, dimulai dari kenikmatan di alam kubur dan berakhir dengan kenikmatan abadi di SurgaNya, Allah berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Artinya: “J angan engkau mengira (bahwa) yang wafat di jalan Allah benar-benar mati, namun sesungguhnya mereka hidup di sisi Rabbnya (dalam keadaan) diberi rezeki“. (QS. Ali Imran: 169).

Perlu diketahui, bahwa kunci untuk memperoleh kenikmatan akhirat adalah “rezeki rohani” yang telah dipaparkan diatas, berupa keimanan kepada Allah dan amal sholeh yang dilandasi dengan ilmu syar’i yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, Allah berfirman:

وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: “Dan barang siapa yang beramal sholeh, baik laki-laki ataupun wanita dan dia dalam keadaan beriman, maka mereka (berhak) masuk ke dalam surga, dan diberi rezeki di dalamnya dengan tanpa batasan“. (QS. Ghafir: 40).

Kunci-kunci pembuka rezeki

Yang akan dipaparkan dalam tema ini adalah kunci-kunci pembuka rezeki “rohani dan akhirat”, hal ini disebabkan oleh 2 hal:

  1. Pembahasan dan pemaparan tentang kunci pembuka rezeki duniawi berupa harta dan sebagainya sangat banyak, jadi cukuplah artikel-artikel tersebut sebagai referensi.
  2. Salah satu di antara kunci pembuka pintu rezeki duniawi adalah ketakwaan dan keimanan seorang hamba, jadi pembahasan terkait tema ini berhubungan langsung dengan kelancaran rezeki duniawi, ibarat pepatah “sambil menyelam minum air” atau pepatah “sekali merengkuh dayung, dua dan tiga pulau terlampaui”.

Diantara kunci untuk membuka rezeki “rohani dan akhirat” adalah:

  • Menuntut ilmu agama.

Ilmu  menduduki tempat yang penting dalam agama, karena dengan ilmulah akan terbangun iman yang benar dan amal shaleh.

Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Artinya: “Maka ilmuilah (ketahuilah), bahwa sesungguhnya tiada Dzat yang berhak disembah kecuali Allah, lalu mohonlah ampun bagi dosamu dan bagi dosa orang-orang mukmin, baik (mukmin) laki-laki ataupun wanita“. (QS. Muhammad: 19).

Al-Imam Bukhari (Penulis Shahih Bukhari) mengatakan:

بَاب الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ

Artinya: “Bab: tentang berilmu (dahulu) sebelum berkata dan beramal”.[5]

Jika kita amati dan kaji ayat dan perkataan Imam Bukhari di atas, maka bisa disimpulkan: ibarat membangun rumah, maka ilmu syar’i merupakan pondasi utamanya, tegak dan tidaknya bangunan agama dapat ditinjau dari benarnya ilmu syar’i yang dipelajari, olehnya salah satu aspek yang berpengaruh terhadap diterimanya  amalan seorang hamba adalah kesesuaiannya dengan yang diajarkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-, yang istilah masyhurnya adalah al-Mutaba’ah, Allah berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Artinya: “(Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan, demi untuk menguji (diantara hambaNya) yang paling baik amalannya (ahsanu amala)“. (QS. Al-Mulk: 2).

Kriteria dari ahsanu amal (amalan terbaik) yang disebutkan dalam ayat diatas adalah terealisasinya  dalam amalan tersebut dua komponen penting, yaitu: keikhlasan dan mutaba’ah.[6]

Yang dimaksud Mutaba’ah adalah kesesuaian amalan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan tentunya modal terpenting dari kriteria ini adalah pengusaan terhadap ilmu syar’i yang bersumber dari dua wahyu; Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Karena krusialnya kedudukan ilmu dalam agama ini, maka banyak anjuran bagi kaum muslimin untuk menuntut ilmu, diantara firman Allah:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ

Artinya: “Dan tidak patut bagi orang-orang mukmin untuk pergi berperang semua, hendaklah sekelompok dari mereka ada yang pergi untuk menuntut ilmu tentang agama, agar dapat memberi peringatan bagi kaum mereka apabila telah kembali (dari berperang)“. (QS. At-Taubah: 122).

Di antara hal yang sangat penting dalam menuntut ilmu agama adalah keotentikan referensi, maka hendaknya para penuntut ilmu menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai referensi utama sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam-, Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

Artinya: “Allah-lah yang mengutus kepada orang-orang yang buta huruf Rasul dari kaum mereka, (tugasnya) membacakan kepada mereka ayat-ayatnya dan mensucikan mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (As-Sunnah)“. (QS. Al-Jumuah: 2).

Dan Rasulullah senantiasa menghiasi khutbahnya dengan mengatakan:

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَإِنَّ أَفْضَلَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Artinya: “Amma Ba’du, sesunggungnya perkataan yang paling benar adalah Al-Qur’an, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam- dan seburuk-buruk perkara adalah membuat perkara-perkara baru dalam agama, dan setiap bid’ah adalah sesat“.[7]

Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam- menghiasi khutbahnya dengan  ucapan di atas, tentu memiliki tujuan agung, di antaranya demi menanamkan dan menekankan kepada Sahabat-sahabatnya (kaum muslimin) urgennya senantiasa merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam perkara-perkara agama maupun dalam perkara muamalah, agar tidak terbelunggu dalam kesesatan hawa nafsu, sebagaimana sabdanya:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّه

Artinya: “Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengannya tidak akan tersesat, yaitu; Kitab Allah dan Sunnah NabiNya. (HR Malik (2/899).

Ibnu Abdil Barr mengatakan: “hadits diatas adalah hadits yang shahih, sangat masyhur dari ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam- dikalangan para ulama, (bahkan) karena kemasyhurannya, seakan hadits ini tidak membutuhkan sanad”.[8]

  • Bertaqwa kepada Allah

Ini merupakan kunci kedua dalam membuka pintu rezeki, yang dimaksud dengan taqwa adalah implementasi dari ilmu yang sudah dituntut oleh seorang muslim, karena inti dari sifat taqwa adalah mengerjakan ketaatan kepada Allah, dan meninggalkan kemaksiyatan karena Allah berlandaskan ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.[9]

Kendati ilmu syar’i menduduki tangga penting dalam agama ini, namun ia “hanyalah” sebagai sarana bagi seorang hamba, adapun tujuan utamanya adalah beramal dan beribadah kepada Allah sesuai dengan ilmu yang telah dituntut. Hakikat inilah yang seharusnya melekat di setiap jiwa seorang penuntut ilmu, Sufyan bin Uyainah mengatakan:

إِذَا كَانَ نَهارِي نهَارُ سَفِيْهٍ، وَلَيْلِي لَيْلُ جَاهِلٍ، فَمَا أَصْنَعُ بِالْعِلْمِ الَّذِي كَتَبْتُ؟

Artinya: “Jika (keadaanku) di waktu siang sama seperti (keadaan) orang idiot, dan (keadaanku) di waktu malam sama seperti (keadaan) orang bodoh, maka apa gerangan manfaat dari ilmu yang telah aku tulis?”.[10]

Dan hakikat seperti inilah yang diwariskan oleh ulama yang lebih “senior” dari kalangan tabi’in dan sahabat kepada kita, Hasan Al-Bashri mengatakan:

كَانَ الرَّجُلُ إِذَا طَلَبَ الْعِلْمَ لَمْ يَلْبَثْ أَنْ يُرَى ذَلِكَ فِي تَخَشُّعِهِ وَبَصَرِهِ وَلِسَانِهِ وَيَدِهِ

Artinya: “Sesungguhnya seseorang jika telah menuntut ilmu, maka akan tampak pengaruhnya terhadap kekhusyu’an sikapnya, dan tatapan matanya, dan ucapan lisannya, serta seluruh perbuatannya”.[11]

Mengamalkan ilmu dan menerjemahkannya dalam kehidupan nyata merupakan bagian dari taqwa, yang merupakan kunci bagi turunnya anugerah Allah dari langit dan pembuka bagi pintu rezeki dari arah yang tidak terduga, Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ

Artinya: “Dan jika penduduk suatu negeri beriman (kepada Allah) dan bertaqwa, maka niscaya akan kami bukakan bagi mereka berkah dan anugerah dari langit dan bumi“. (QS. Al-A’raf: 96).

Allah juga berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ** وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Artinya: “Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Alah, maka akan dibukakan baginya solusi (dari masalah)#dan akan diberi rezeki dari arah yang tidak terduga“. (QS. Ath-Thalaq: 2-3).

Taqwa merupakan bekal penting bagi para penuntut ilmu, agar diberi kemudahan oleh Allah untuk menuntutnya, Allah berfirman:

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ

Artinya: “Dan bertaqwalah (kalian) kepada Allah, maka niscaya Allah akan mengajarkan kepada kalian (ilmu)“. QS. Al-baqoroh 282.

Ketika Imam syafi’i merasa kesulitan dalam menuntut ilmu dan kelemahan dalam menghafal ilmu, maka beliau menghadap kepada Syaikhnya; Waki’ bin Jarrah Ar-Ru’asiy, maka momentum ini beliau abadikan dalam sebuah bait syair:

شكوت إلى وكيع سوء حفظي *** فأرشدني إلى ترك المعاصي
وأخبرني بأن العلم نور ***  ونور الله لا يهدى لعاصي

Artinya: “Aku mengadu kepada guruku Waki’ tentang buruknya hafalanku#maka ia menasehatiku untuk meninggalkan maksiyat#dan ia mengabariku bahwa ilmu adalah cahaya#dan cahaya Allah tidak diberikan kepada tukang maksiyat”.[12]

Dan meninggalkan maksiyat merupakan salah satu makna dari sifat taqwa.

Manfaat taqwa bagi seorang hamba tidak hanya terbatas di dunia, namun manfaatnya menembus batas dimensi dunia, Allah berfirman:

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوْا

Artinya: “Perumpamaan surga yang dijanjikan untuk orang yang bertaqwa ialah (seperti taman) yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, buahnya tiada berhenti dan naungannya (demikian pula), itulah tempat akhir bagi orang-orang yang bertaqwa“. (QS. Ar-Ra’d: 35}.

  • Berdoa kepada Allah

Ini merupakan penyempurna bagi seluruh ikhtiar kita dalam menggapai segala sesuatu, apapun cita-cita yang ingin kita raih, jangan “bakhil” untuk mengangkat tangan kita kepada Allah untuk bermunajat kepadaNya memohon dan meminta realisasi dari cita-cita kita, tentunya diiringi dengan usaha.

Qudwah kita adalah para Nabi dan Rasul, terkhusus Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wasallam-, beliau adalah sosok yang sangat memperhatikan ibadah yang satu ini, beliau berdoa di semua situasi; ketika perang, ketika damai, ketika shalat, ketika pagi, ketika petang dan keadaan-keadaan yang lainnya.

Untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat, maka salah satu doa yang banyak beliau panjatkan kepada Allah adalah:

اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “Ya Allah Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami di dunia ini kebaikan, dan di akhirat juga kebaikan, dan lindungi kami dari adzab neraka[13].

Untuk mendapat tambahan ilmu, maka Allah mengajarkan kepada beliau doa khusus, yaitu:

رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Artinya: “Ya Allah, tambahkan kepadaku ilmu“. (QS. Thaha: 114).

Dan beliau juga rajin berdoa setelah melaksanakan shalat subuh dengan doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu (untuk diberi) ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik (halal), dan amalan yang diterima[14].

_______________________________________

[1] . Tafsir At-Thabari (17/411).

[2] . Tafsir Ibnu Katsir 4/275.

[3] . Siyar A’lam Nubala’ 8/114.

[4]. HR. Bukhari di Adab Mufrad, No: 275.

[5] . Shahih Bukhari (1/24) versi Maktabah Syamilah.

[6]. Lihat Tafsir Al-Baghawi (8/176) versi Maktabah Syamilah.

[7]. HR. Ahmad (22/237).

[8]. At-Tamhid (24/331).

[9] . Lihat Madarijus Saalikin, karya Ibnul Qoyyim (1/462).

[10] . Akhlaqul Ulama Karya Ajurry, hal. 54.

[11] . Kitab Az-Zuhud, karya Ibnul Mubarak, hal. 26.

[12] . Syair ini di riwayatkan dalam beberapa redaksi, lihat Manaqib Syafi’i (2/314), dan I’anatut Thalibin Ala Halli Alfadhi Fathul Mu’in (2/167).

[13] . HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Hibban.

[14]. HR.  Ahmad dan Ibnu Majah.

You might also like More from author

Leave a comment
k