Konsistensi Ibadah Pasca Ramadhan

Ramadhan telah berlalu seiring berjalannya waktu, namun kepergiannya menyisakan sejumlah kenangan yang tersirat di dalam kalbu. Terdapat perasaan lega bercampur resah dalam hati orang-orang beriman.

Hati dapat lega karena telah menjalani berbagai ibadah dan menjauhi dosa dan kemaksiatan selama bulan Ramadhan, tetapi perasaan resah juga tidak dapat ditepis karena khawatir ibadah dan ketaatan tersebut tidak diterima di sisi Allah.

Kendati bulan Ramadhan telah berlalu, tetapi amal ibadah yang disyariatkan di dalamnya tidak putus dengan berakhirnya bulan tersebut. Puasa, shalat berjamaah, shalat tarawih, memakmurkan masjid, membaca al-Quran, zakat, infak, sedekah dan berbagai amalan lainnya  masih tetap harus dilanjutkan di luar bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan diibaratkan sebagai madrasah untuk melatih pribadi-pribadi beriman agar dapat berkompetisi melakukan beragam ibadah yang sesungguhnya pada  sebelas bulan berikutnya. Alumninya diharapkan dapat mempertahankan dan meningkatkan ibadah-ibadah yang telah dijalaninya selama sebulan penuh. Sebab Allah Ta’ala yang disembah dengan sepenuh hati dan seikhlas jiwa pada bulan Ramadhan, Dia juga Rabb yang disembah dan ditaati pada setiap waktu dan tempat. Rabb yang dipuja dan dimohon rahmat, karunia, dan kasih sayang-Nya, Dia juga yang diharap dan dimintai segala kebutuhan makhluk.

Tidak heran jika sebagian orang saleh menganggap orang-orang yang hanya rajin dan semangat beribadah pada bulan Ramadhan sebagai orang yang buruk. Saat ditanya tentang orang yang seperti itu, Bisyir bin Harits al-Hafi menegaskan: “Mereka adalah seburuk-buruk manusia, karena tidak mengenal hak Allah kecuali pada bulan Ramadhan. Hamba Allah yang saleh adalah orang yang rajin dan sungguh-sungguh beribadah sepanjang tahun.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa menjaga konsistensi ibadah beliau. Ibadah yang disyariatkannya selalu rutin dikerjakan. Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika mengerjakan suatu amal maka amalan tersebut dirutinkannya.” [HR. Muslim]. Alasan merutinkan amal ibadah itu dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau:

“Amal ibadah yang paling dicintai Allah ‘Azza wajalla adalah amalan yang rutin dikerjakan meskipun sedikit.” [HR. Muslim]

Istiqamah dan kontinu meneruskan suatu amalan dapat menjadi indikasi diterimanya amal seseorang. Ibnu Rajab menyatakan: “Jika Allah menerima amalan seorang hamba, maka Allah akan memberinya taufik untuk melakukan amalan saleh sesudahnya. Sebagian ulama salaf berkata: ‘Ganjaran perbuatan baik adalah taufik Allah untuk mengerjakan kebaikan sesudahnya. Barang siapa mengerjakan amal kebaikan lalu ia melakukan kebaikan lagi setelahnya, maka hal itu merupakan indikasi diterimanya amal kebaikan sebelumnya. Tetapi barang siapa   mengerjakan suatu amal kebaikan, lalu ia melakukan perbuatan buruk sesudahnya, maka hal itu merupakan indikasi tertolaknya kebaikan yang telah dikerjakannya’.” [Lathaif Al-Ma’arif, hal. 247]

Syawal Momentum Mengawali Konsistensi Ibadah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan bulan Syawal yang mengiringi bulan Ramadhan sebagai momentum yang tepat untuk mengawali dan menjaga konsistensi ibadah pasca Ramadhan. Beliau telah mensyariatkan puasa enam hari di dalamnya dan memberi penjelasan tentang keutamaannya.  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْر

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan lalu meneruskannya dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka pahalanya seperti ia telah berpuasa setahun penuh.” [HR. Muslim]

Waspada Terhadap Perusak

Agar amal-amalnya tidak terurai kembali, seorang alumni madrasah Ramadhan selain dituntut untuk konsisten menjalankan ibadah yang telah banyak dilakukannya di bulan Ramadhan, ia juga hendaknya menjauhi segala dosa dan keburukan yang telah dihindarinya di bulan tersebut. Karena orang yang telah melakukan berbagai amal ibadah diibaratkan seperti orang yang telah merajut dan memintal benang menjadi lembaran-lembaran kain dengan penuh susah payah. Sedang orang yang melakukan kemaksiatan dengan meninggalkan perintah-perintah Allah atau mengerjakan larangan-laranganNya setelah banyak beribadah seperti orang yang mengurai kembali pintalan kain yang telah dirajutnya. Inilah yang disindir Allah dalam firman-Nya yang artinya:

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain.” [QS. An-Nahl: 92]

Dapat dibayangkan betapa buruk sikap dan tindakan seseorang yang telah bersusah-payah merajut dan memintal benang satu persatu agar dapat menjadi sehelai kain dan selembar pakaian hingga sempurna kemudian setelah itu ia kembali membongkar dan merusak tenunan tersebut.

Analogi ini menggambarkan kondisi sebagian orang yang tatkala Ramadhan telah berlalu, ia kembali melakukan perbuatan dosa dan maksiat. Padahal selama sebulan penuh dia bersungguh-sungguh mengerjakan shalat secara berjamaah, melaksanakan shalat tarawih atau qiyamullail, puasa, berinfak dan bersedekah, berdoa dan zikir, merendahkan diri dan menangis karena Allah, tetapi setelah Ramadhan berlalu, hal itu mulai ditinggalkan lalu kembali bergelimang dengan dosa dan kemaksiatan.

Menjaga Shalat Berjamaah

Jika shalat tarawih yang sunah hukumnya tidak ketinggalan dikerjakan secara berjamaah di masjid atau mushalla, maka shalat lima waktu secara berjamaah yang hukumnya wajib itu tentu lebih penting dijaga dan ditingkatkan. Karena amalan wajib harus didahulukan dan diutamakan daripada amalan sunah. Apalagi shalat merupakan cahaya di dalam kehidupan dunia ini, di alam  kubur dan ketika melewati shirath. Shalat adalah berkah dalam harta dan keluarga. Apabila shalat baik, maka baiklah seluruh amalan lainnya. Oleh karena itu, shalat lima waktu jangan disia-siakan. Kerjakanlah secara berjamaah di masjid sebagaimana yang dilakukan pada bulan Ramadhan.

Meneruskan Tilawah Al Quran

Teruskanlah bacaan al-Quran yang telah rutin dilakukan di bulan Ramadhan karena al-Quran diturunkan untuk dibaca dan menjadi petunjuk di dalam dan di luar bulan Ramadhan. Dalam sehari hendaknya terdapat sejumlah ayat atau surat yang dibaca dan ditadabburi. Hindari sikap kaum yang diadukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Allah Ta’ala dalam al-Quran:

“Berkatalah Rasul: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al- Quran ini sesuatu yang ditinggalkan.” [QS. Al-Furqan: 30]

Banyak Berzikir

Jadilah orang yang banyak berzikir kepada Allah, supaya terlindungi dari segala keburukan dan mendapatkan pahala yang besar. Biasakan membaca zikir pagi dan petang, zikir sebelum tidur, zikir keluar dari rumah, dan sebagainya.  Manfaatkan waktu kosong ketika bekerja atau ketika Anda berangkat kerja dengan memperbanyak zikir kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Istiqamah dalam Beribadah

Setiap muslim hendaknya istiqamah di dalam ketaatan kepada Allah, kontinu dan berkesinambungan melakukan ibadah hingga akhir hayatnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Dan sembahlah (ibadahilah) Rabb-mu sampai datang al-yakin (maksudnya kematian).” [QS. Al-Hijr: 99]

Nabi Isa ‘alaihis salam menegaskan prinsipnya:

“Dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” [QS. Maryam: 31]

Muslim sejati adalah muslim yang  tidak mengenal batasan akhir untuk beramal saleh selain kematian.

Jangan remehkan ketaatan meski sederhana, jauhi segala kemaksiatan sebagaimana yang dilakukan pada bulan Ramadhan. Sadari bahwa dunia ini adalah ladang untuk kehidupan akhirat. Barang siapa yang menanam kebaikan maka dia akan memanen kebaikan, dan siapa saja yang menanam keburukan maka dia akan memanen keburukan pula.

You might also like More from author

Leave a comment
k