Khutbah Jum’at: Noda Hitam Tauhid

Kaum muslimin yang dirahmati Allah –subhanahu wata’ala-.

Hikmah teragung dari ditegakkannya langit, dihamparkannya bumi,  diciptakannya bangsa jin dan manusia adalah demi merealisasikan ibadah kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-, Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57)

Artinya: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepadaKu, Aku tidak menginginkan dari mereka rezeki dan makanan.”(QS. Adz-Dzariyat 56).

Kaum muslimin yang dirahmati Allah –subhanahu wata’ala-.

Maka seluruh ucapan, amalan hati, dan perbuatan yang diperintahkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah perwujudan dari ibadah kepada Allah dan tauhid.

Namun di sana ada ucapan, amalan hati, dan perbuatan yang jika kita laksanakan, maka akan menodai tauhid kepada Allah, dan menyebabkan cacat bagi penghambaan kita kepadaNya, hal inilah yang disebut dengan Syirik.

Makna Syirik dalam bahasa arab bermakna al-Isyrak wal Muqoronah, yaitu menyekutukan dan membandingkan. Adapun secara syar’i bermakna:

تَسْوِيَةُ غَيْرِ اللهِ باِللهِ بِمَا هُوَ مِنْ خَصَائِصِ اللهِ

Yaitu menyetarakan antara makhluk dengan Allah –subhanahu wata’ala- dalam hal yang menjadi kekhususan bagi Allah.

Definisi ini sesuai dengan yang diucapkan oleh orang musyrik kepada sesembahan mereka pada hari kiamat, Allah berfirman:

تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (97) إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ (98)

Artinya:”Demi Allah, sesungguhnya kami dahulu (waktu hidup di dunia) berada dalam kesesatan yang nyata, ketika kami menyetarakan/menyamakan kalian (sesembahan ketika di dunia) dengan Allah Pemilik semesta alam”.(QS Asy-Syu’ara’ 97-98).

Dan juga selaras dengan sabda Nabi Muhammad –shallallahu ‘Alaihi wa sallam-, ketika menjawab pertanyaan Sahabatnya Abdullah bin Mas’ud –Radhiyallahu Anhu-  tentang dosa yang paling besar;

أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ

Artinya:”(dosa yang paling besar adalah) Engkau menjadikan sekutu bagi Allah, sedangkan Dia telah menciptakanmu”.(HR Bukhari dan Muslim).

Yang dimaksud dengan “kekhususan Allah”  di antaranya dalam hal Rububiyah, maka yang dimaksud dengan syirik dalam Rububiyah adalah meyakini dan mengimani bahwa ada dzat selain Allah yang mampu memberikan rezeki, mengatur alam, menurunkan hujan dan lain sebagainya, maka inilah kesyirikan yang nyata, melebihi kesyirikan orang kafir Quraisy yang hidup pada zaman Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam-, Allah berfirman:  

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (61)

Artinya: Dan jika engkau tanyakan kepada mereka:”siapakah yang menciptakan langit dan bumi, dan mengatur matahari dan rembulan?, maka mereka tentu akan menjawab: Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari jalan yang benar).(QS. Al-Ankabut 61).

Dan di antara kekhususan Allah yang teragung adalah dalam hal uluhiyah, maka yang dimaksud dengan syirik dalam hal ini adalah menyekutukan Allah –subhanahu wa ta’ala- dengan HambaNya dalam hal ibadah, maka berdoa, bertawakkal, dan mengharap kepada selain Allah adalah contoh nyata dari kesyirikan, demikian juga dengan meniatkan sebagaian ibadah kepada selain Allah, seperti bernadzar, dan menyembelih untuk selain Allah adalah bagian dari syirik, Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162)

Artinya:”katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah milik Allah Pemilik semesta alam”, [Al-An’am 162].  

Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah.

Syirik merupakan noda hitam bagi tauhid kita, bahkan dapat memadamkan cahaya tauhid di dalam hati cahaya seorang hamba, ia adalah dosa besar yang dilakukan oleh seorang hamba kepada Rabbnya yang telah menciptakannya, memberinya rezeki, dan mengatur jalannya jagat raya ini, adalah merupakan pembangkangan yang luar biasa jika membalas kebaikan yang telah Allah anugerahkan dengan kesyirikan, Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13)

Artinya:”Dan ketika Lukman berkata kepada anaknya: wahai anakku jangan engkau berbuat syirik, sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar”.

Kesyirikan adalah penghapus bagi Amalan, barang siapa yang terjerembab ke dalamnya dan tidak bertaubat kepada Allah, maka akan hangus pahala amalan yang telah ia lakukan di waktu yang lalu, Allah berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65)

Artinya:”Dan telah aku wahyukan kepadamu wahai Rasulullah dan kepada orang-orang sebelum kalian, jika engkau terjatuh ke dalam kesyirikan, maka amalanmu akan terhapus, dan engkau akan merugi”.

Dan yang lebih berbahaya, kesyirikan dapat mengekalkan pelakunya di dalam Neraka, sebab orang yang meninggal dunia dalam keadaan melakukan syirik  tidak diampuni dosanya oleh Allah, Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا (116)

Artinya:”Sesungguhnya Allah tidak mengampuni orang yang berbuat syirik, dan mengampuni dosa selain syirik”.

Oleh karena itu, marilah kita berupaya sekuat tenaga untuk menjaga kemurnian tauhid kita, dan berupaya untuk terus mengkaji agama ini agar dapat menghindari hal-hal yang dapat menodai kemurnian agama dan keimanan kita.

  

 

You might also like More from author

Leave a comment
k