Husnu Zhan dan Amal Shaleh

Husnu zhan atau prasangka baik kepada Allah adalah prilaku yang harus selalu ada pada diri seseorang, karena Dialah yang menciptakannya dan Maha tahu apa yang terbaik dan pantas baginya. Namun prasangka baik kepadaNya juga harus dibarengi dengan amalan/perbuatan baik, keduanya saling terikat satu sama lain, tidak ada gunanya berprasangka baik kepada Allah kalau tidak diiringi dengan amalan baik, sebagaimana amalan baik tidak akan berarti jika tidak dibarengi dengan prasangka baik kepadaNya.

Hakikat ini yang masih kurang dipahami oleh sebagian orang sehingga menimbulkan dampak negatif dalam realita kehidupan -khususnya dalam masyarakat Islam- akibat salah pandang terhadap prasangka baik kepada Allah.

Di antaranya, masih banyak yang meninggalkan kewajibannya kepada Allah seperti shalat, puasa, haji, kemudian menyangka bahwa ia akan selamat di akhirat atas prasangka baiknya kepada Allah. Atau melanggar batasan batasan Allah dengan melakukan perbuatan maksiat lalu menyangka bahwa Allah akan mengampuni seluruh dosa dosanya atas prasangka baiknya kepada Allah. Apa yang mereka prasangkakan itu sangat keliru, hanya berupa angan angan yang berasal dari tipuan syaitan belaka.

Berprasangka baik kepada Allah yang benar adalah ketika ia meyakini nama dan sifat sifat Allah yang maha sempurna serta konsekuensinya, ia yakin bahwa Allah Maha penyayang kepada hamba-hambaNya yang berhak mendapatkan kasih sayangNya, yakin bahwa rahmat Allah mendahului murkaNya, mengimani bahwa Allah Maha pengampun bagi hambaNya yang bertaubat dengan jujur, dan Ia menerima amalan hambaNya yang ikhlash dalam beramal lalu memberi ganjaran yang berlipat atas amalannya.

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman: ”Aku menurut prasangka hamba terhadapKu, dan Aku selalu bersamanya selagi ia mengingatKu” [HR.Bukhari].

Ini menunjukkan adanya hubungan erat antara prasangka baik kepada Allah dengan amal shaleh, ketika sang hamba senantiasa mengingat Allah, baik dengan hati, lisan maupun dengan anggota tubuhnya berupa amalan shaleh yang disyariatkan Allah maka prasangkanya kepada Allah semakin kuat bahwa Allah akan senantiasa bersamanya, menjaganya, membimbingnya, menolongnya dan memudahkan segala urusannya di dunia serta memberinya ganjaran yang besar di akhirat.

Ibnul Qayyim menjelaskan hubungan antara keduanya, beliau berkata: ”Tidak diragukan bahwa prasangka baik kepada Allah terwujud dengan perbuatan baik, karena orang yang berbuat baik akan berprasangka baik kepada Allah bahwa Ia akan memberinya ganjaran atas kebaikan yang dilakukannya, dan Ia tidak akan menyalahi janjinya, serta akan menerima taubatnya, adapun pelaku maksiat yang terus hanyut dalam maksiatnya, maka efek kemaksiatannya itu akan menghalanginya untuk berprasangka baik kepada Allah, hal ini nyata dalam realita… kegelapan dosa tidak akan dapat bersatu dengan prasangka baik…”.

Ibnul Qayyim juga mengutarakan perbedaan antara prasangka baik dan ghurur (terpedaya): “Telah jelas perbedaan antara husnuhan dan ghurur (terpedaya  diri sendiri). Jika prasangka baik mengantar untuk beramal, menganjurkan, membantu dan menuntun untuk melakukannya, maka inilah sikap yang benar. Tapi jika mengajak kepada pengangguran dan bergelimang dalam kemaksiatan, maka itu adalah ghurur (tipuan)” [Al-Jawab Al-Kafi, hal. 24].

Pemahaman terhadap husnu zhan kepada Allah dengan hanya beranggapan bahwa pengampunan Allah dan kasih sayangNya sangat luas dan mendahului murkaNya, sehingga memudah-mudahkan perbuatan maksiat, dan tidak risih dengan kemaksiatan yang merajalela di sekitarnya, adalah pemahaman yang keliru lagi pincang terhadap husnu zhan.

Keyakinan akan pengampunan dan rahmat Allah yang luas harus dibarengi dengan keyakinan bahwa Allah Maha keras siksaannya, dan Maha adil hukumanNya, serta keyakinan kuat bahwa Dia tidak akan menempatkan sifat-sifatNya bukan pada tempatnya, Ia akan merahmati orang-orang yang berhak mendapatkan rahmat dan kasih sayangnya, dan menghukum orang orang yang pantas mendapatkan hukuman, dan ini sesuai dengan sifatNya yang Maha bijaksana.

Hasan al Bashri berkata: ”Ada sekelompok orang yang terlalaikan dengan angan-angan, sehingga ia keluar dari dunia tanpa membawa amal kebaikan, mereka berkata: “Aku berprasangka baik kepada Tuhanku”… itu adalah dusta! jika betul ia berprasangka baik niscaya dia akan beramal shaleh”. Beliau juga berkata: ”Seorang beriman berprasangka baik kepada Tuhannya sehingga ia beramal shaleh, dan seorang pendosa berprasangka buruk kepada Tuhannya sehingga ia pun melakukan perbuatan buruk” [Al-Jawab Al-Kafi, hal. 24].

You might also like More from author

Leave a comment
k