Bukan Sekedar Batu Akik

Di dalam islam  berhias adalah mubah hukumnya, siapa saja boleh menggunakan perhiasan bagi dirinya asalkan tidak berlebihan dan tidak untuk berbangga diri, intinya adalah berhias dengan sewajarnya, Allah ta’ala berfirman yang artinya: Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hambaNya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” (QS. al-‘Araf: 32). Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga mengatakan: “sesungguhnya Allah itu maha indah dan menyukai keindahan” (HR. Muslim).

Yang sedang ramai dan menjadi fenomena di tanah air sampai saat ini adalah penggunaan batu akik sebagai cincin bagi laki-laki. Sebenarnya tidaklah masalah bila itu hanya sekedar untuk hiasan dan koleksi semata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri juga memakai cincin yang sekaligus beliau gunakan untuk menstempel surat-surat beliau.

Tapi akan menjadi masalah bila memakai cincin batu akik disertai dengan kepercayaan-kepercayaan tertentu, ini yang sangat disayangkan … sebagian orang meyakini bahwa batu akik dengan jenis dan warna tertentu memiliki khasiat dan pengaruh pada pemakainya,  bahkan sampai ada yang meyakini bahwa batu itu memiliki kekuatan mistis sehingga bila dipakai dapat memberikan kekuatan, kekebalan, sebagai penangkal atau yang diistilahkan sebagai jimat.

Jadi bagaimana bila seseorang memakai cincin-cincin batu akik itu dengan keyakinan dan kepercayaan tertentu? Yaitu dapat mendatangkan manfaat dan menjauhkan dari bahaya.

Pertama sekali perlu diketahui bahwa manfaat dan bahaya itu semua asalnya dari Allah semata, dan barang siapa yang meyakini sesuatu dapat memberi manfaat dan menjauhkan bahaya selain Allah maka akan terjerumus ke dalam kesyirikan, Allah ta’ala berfirman:

 وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۚ قُلۡ أَفَرَءَيۡتُم مَّا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ إِنۡ أَرَادَنِيَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ هَلۡ هُنَّ كَٰشِفَٰتُ ضُرِّهِۦٓ أَوۡ أَرَادَنِي بِرَحۡمَةٍ هَلۡ هُنَّ مُمۡسِكَٰتُ رَحۡمَتِهِۦۚ قُلۡ حَسۡبِيَ ٱللَّهُۖ عَلَيۡهِ يَتَوَكَّلُ ٱلۡمُتَوَكِّلُونَ ٣٨

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri” (ad-Zumar: 38).

Dari sahabat Imron bin Husain menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat seorang laki-laki memakai gelang yang terbuat dari kuningan, kemudian beliau bertanya: “Apakah itu?”, orang laki-laki itu menjawab: “gelang penangkal penyakit”, lalu Nabi bersabda: “lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.”(HR. Ahmad dengan sanad yang bisa diterima).

Ini adalah ancaman yang sangat keras dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bagi para pengguna gelang atau cincin dsb .. dengan keyakinan tertentu, karena itu dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam kesyirikan, sebagaimana ditegaskan lagi dalam hadits lain beliau bersabda: “Barang siapa yang menggantungkan tamimah (jimat) maka ia telah berbuat syirik” (HR. Ahamad).

Maka dari itu para ulama menjelaskan bahwa hukum mereka yang menggunakan cincin dan sebagainya dengan kepercayaan tertentu ada dua:

  1. Syirik besar bila diyakini bahwa cincin tersebut dapat memberi pengaruh (yaitu dapat mendatangkan manfaat dan menjauhkan bahaya) dengan sendirinya.
  2. Syirik kecil bila diyakini bahwa cincin tersebut hanya menjadi sebab untuk mendatangkan manfaat, kebaikan dan berkah.

Namun perlu digaris bawahi bahwa syirik kecik sekalipun kedudukannya lebih tinggi dari dosa besar (kabair), maknanya adalah bahwa syirik kecil ini lebih buruk dari dosa zina, lebih buruk dari dosa riba, membunuh dan dosa-dosa besar lainnya selain syirik besar.

Maka ini sekaligus mengingatkan kepada seluruh kaum muslimin agar berhati-hati, jangan sampai terjerumus ke dalam dosa ini, jauhilah keyakinan-keyakinan syirik tersebut, jadikanlah cincin itu kembali pada fungsi asalnya yaitu sebagai hiasan yang mubah. Semoga Allah ta’ala selalu melindungi kita semua dari petaka syirik ini … amin [wallahu a’lam].

You might also like More from author

Leave a comment
k