Bersegeralah Kembali Kepada Allah

[Serial Menghindari Fitnah Dengan Kembali Kepada Allah: 1]

Saudaraku, setiap kali mengamati kondisi umat Islam saat ini dengan mata dan hati sanubari, kita pasti merasa sangat sedih berpadu pilu. Beragam musibah, derita, kezaliman, dan ujian besar menimpa mereka di mana-mana. Realita menyakitkan yang setiap hari menegur rasa kemanusiaan yang tersisa, hampir saja menggelincirkan kita ke jurang keputus asaan dan kekalahan. Namun, hanya keyakinan tinggi serta harapan besar akan janji Allah Ta’ala sajalah yang membuat kita tetap tegar. Janji mulia itu disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, melalui sabda beliau:

“Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang tetap berada pada kebenaran, tidak akan terpengaruh oleh orang yang menghinanya, sampai datang keputusan Allah, dan mereka tetap dalam kondisi seperti itu”. [1]

Rasa sedih itu juga akan sedikit terobati, tatkala kita mengingat sunnatullah di muka bumi, bahwa segala musibah dan fitnah besar yang menimpa adalah akibat dosa hamba-hambaNya. Mereka tenggelam dalam fatamorgana dunia dan berlomba-lomba  mengejar semua kenikmatannya yang fana. Sehingga semakin jauh dari Allah, serta lupa akan negeri akhirat, dan tak sedikit yang lupa berbekal untuk kehidupan setelah mati. Godaan setan yang tiada henti, serta tuntutan hawa nafsu yang silih berganti adalah faktor utama kelalaian ini.

Selain itu, masih banyak faktor lainnya, yang menyebabkan seorang muslim melangkah kian jauh meninggalkan kebenaran, dan saat ingin kembali ia justru semakin bingung bahkan hilang arah. Di antara faktor-faktor yang dimaksud adalah:

  1. Terbuka lebarnya pintu kenikmatan dunia.

Sehingga pola pikir hedonis dan materialis menjadi prinsip dasar hidup mayoritas manusia. Mereka berlomba-lomba mengejar materi tanpa peduli lagi halal haram, maupun baik atau buruk, sehingga kompetisi tidak sehat menyerang semua kalangan, dan tak jarang memicu perselisihan bahkan peperangan.

Perlombaan mengejar kesenangan dunia sedikit banyak telah memalingkan manusia (kaum muslimin khususnya) dari target utama dia hidup di dunia. Dunia yang pada mulanya hanya merupakan sarana menuju akhirat, kini berubah menjadi tujuan utama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang paling aku takutkan menimpa kalian, akan tetapi yang aku takutkan adalah dihamparkan kepada kalian kekayaan dunia, sebagaimana telah dihamparkan kepada umat sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba meraihnya, sebagaimana mereka berlomba-lomba mendapatkannya, hingga kalian binasa sebagaimana mereka binasa.[2]

  1. Kemungkaran dan kemaksiatan yang merajalela.

Fenomena ini menyebabkan mayoritas kaum awam makin sulit membedakan antara ma’ruf dengan mungkar, antara yang benar dan yang salah, karena banyaknya manusia yang melakukan kemungkaran tertentu.

Di sisi lain syiar amar ma’ruf dan nahi mungkar jadi bias ditelan badai isu radikalisme, dan tambah sekarat akibat egoisme. Kepedulian sosial agama yang dulunya  menjadi kebanggaan setiap muslim, kini berbalik berubah menjadi perbuatan yang dihindari karena rentan ditindak pidanakan.  

  1. Munculnya berbagai macam fitnah besar yang datang silih berganti.

Kita menyaksikan setiap hari orang-orang terus berjatuhan di dalamnya, baik dengan hati, lisan, maupun perbuatannya. Setiap muslim semakin khawatir akan terjerumus dalam fitnah tersebut kapan saja. Ia hanya mampu berkata: “Tiada yang mampu selamat pada hari ini melainkan orang yang dikasihi Allah Yang Maha Pengasih.”

Ketika ingin mencari jalan selamat, seorang muslim bingung mau mulai dari yang mana. Apakah mulai dari fitnah dunia dengan rayuan gemerlapnya, ataukah dari fitnah ilmu dengan perkara-perkara yang merusaknya, ataukah dari fitnah syirik dan bid’ah yang bervariasi, atau dari fitnah perselisihan, pertikaian dan perpecahan yang menyerang hampir semua elemen masyarakat muslim? Fitnah perselisihan dan perpecahan ini tambah berbahaya karena terjadi antara sesama penganut ahlus sunnah wal jama’ah, bahkan antara para da’i dan aktifis Islam.     

  1. Al-ghurbah/kerterasingan dahsyat yang dialami kaum muslimin di sebagian besar negara-negara dunia

Di mana syariat Allah menjadi perkara tabu, bahkan tuntutan penegakannya dapat dijadikan alasan kuat untuk kriminalisasi, paling ringan dituduh radikal atau anti nasionalisme.

Jika kaum muslimin minoritas di negara tertentu, maka mereka selalu menjadi bulan-bulanan tirani yang zhalim, tanpa ada yang peduli atau berani membela. Namun jika mayoritas, kaum muslimin selalu dituntut untuk toleransi dan berbaik budi, kesalahan individu seyogyanya langsung digeneralisir.

  1. Mewabahnya penyakit nifak di kalangan elit kaum muslimin.

Kemunafikan bisa menyerang siapa saja, hanya dampak kemunafikan kaum elit dan tokoh muslim yang menjadi figur jauh lebih berbahaya. Ajaran agama jadi bias, batasan antara benar dan salah jadi abu-abu, bahkan banyak kaum awam menjadikan ucapan atau perbuatan seorang figur munafik sebagai hujjah/argumentasi untuk melanggar ajaran agama.

Komplikasi penyakit kronis yang menyerang umat, serta berbagai faktor yang dapat memicu kehancuran kaum muslimin hanya dapat diatasi dengan satu penawar mujarab, yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala Rabb alam semesta, yang Maha Tahu segalanya, termasuk obat yang paling bermanfaat bagi manusia. Allah Azza wa Jalla memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memberitahukannya kepada manusia, melalui firman-Nya: 

“Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS. Adz-Dzariyat: 50).

Yakni berlarilah meninggalkan maksiat menuju ketaatan, berlarilah meninggalkan semua perkara yang dapat mendatangkan kemarahan Allah, menuju perkara-perkara yang dapat mendatangkan rahmat-Nya, serta berlarilah sejauhnya menghindari segala fitnah yang dapat menghancurkan agama.

Perintah di atas dikuatkan lagi dengan firman Allah Ta’alaDan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu, dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. ( QS. Ali Imran: 133).

Dan di antara do’a yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan ampunan-Mu dari siksaan-Mu, dan saya berlindung denganMu dan dariMu. Saya tidak bisa memujiMu (sesempurna)  pujianMu. (Sesungguhnya) Engkau sebagaimana yang telah Engkau pujikan pada diriMu.” [3]

Semoga Allah Azza wa Jalla menyelamatkan kita dari berbagai fitnah yang nyata, maupun yang tak kasat mata, memberi kita taufik untuk kembali kepada agama dan syari’at-Nya, dan semoga Allah mewafatkan kita dalam keridhoan-Nya, amin.

[1] HR. Muslim, no. 1920.

[2] HR. Bukhari, no. 3158.

[3] HR. Muslim, no. 486.

Referensi utama: Waqafat Tarbawiyah, Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil. Dar Thayyibah. 1998.

You might also like More from author

Leave a comment
k