Bahaya Laten Syi’ah Rafidhah

Pasca meledaknya Revolusi (kudeta)  Iran di bawah pimpinan Ali Khomaini pada tahun 1978. Khomaini yang sebelumnya memonitor langsung perkembangan revolusi dari Perancis, kemudian mendarat di Iran dengan pesawat Perancis dan disambut bak pahlawan.

Untuk menutupi agenda tersembunyi yang menjadi target utama dari revolusi Perancis ini, maka Khomaini dan gengnya mengubah nama Negara menjadi “Republik Islam Iran”. Sebagai isyarat tidak langsung, bahwa pemerintahan sebelumnya bukanlah pemerintah Islam, juga untuk membungkus agenda tersembunyi dengan bungkus Islam, agar seantero dunia Islam bersimpati. Padahal fakta membuktikan bahwa pemerintahan baru yang memanfaatkan keagungan nama Islam sebagai tameng, sama saja seperti sebelumnya, diktator dan zhalim!

Mesti makar dan konspirasi yang dibawa revolusi Khomaini sangat berbahaya, mayoritas kaum muslimin tidak menyadarinya. Sebaliknya banyak tokoh-tokoh dan organisasi Islam justru mengelu-elukan Khomaini dan mendukung penuh revolusinya, seolah-olah ia menjadi ikon perubahan dunia Islam.

Sebut saja Tanzhim IM (Ikhwanul Muslimun) pada saat itu, yang dengan gigih membantah orang-orang yang meragukan ke”Islaman” revolusi Khomaini dan mengelompokkan mereka kepada empat golongan:

Pertama, Muslim yang belum siap menghadapi topan perubahan dan masih tenggelam di zaman kekalahan, maka hendaklah mereka beristighfar menyempurnakan pemahamannya tentang jihad dan makna izzah dalam Islam. Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 175).

Kedua, Antek, yang berusaha menjadi penengah demi kepentingan musuh-musuh Islam, dengan meneriakkan slogan ukhuwah Islamiah. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَإِن يُرِيدُوا أَن يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ ۚ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ

Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin.

Ketiga, Muslim imma’ah/ikut-ikutan yang diatur orang lain, tak punya sikap atau keberanian. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran: 149).

Keempat, Munafik yang selalu berpura-pura, plin-plan antara golongan yang ini dan yang itu.[1]

Setelah melihat hakikat Syi’ah Iran dan peran besarnya dalam pembersihan etnis Ahlus Sunnah di Iran, Irak dan  Suria, kini banyak tokoh IM yang tersadar dan mengambil sikap kontra terhadap Syi’ah. Seharusnya, pengalaman pahit ini memberikan ibrah kepada yang lain, agar tidak mengulangi kesalahan tersebut.

Di antara bukti kekurangpahaman banyak tokoh-tokoh Islam tentang hakikat Syi’ah Rafidhah adalah tercetusnya “Risalah Amman.” Walau deklarasi ini tidak memiliki kekuatan hukum apa-apa.

Sebenarnya sejak awal pecahnya revolusi Iran, ada beberapa tokoh Islam yang memberi peringatan kepada kaum muslimin tentang bahaya laten Syi’ah. Sebut saja misalnya Syekh Abdullah Muhammad al-Gharib via kitab beliau “Wa Jaa’a Daurul Majus”/Tibalah giliran Kaum Majusi. Cetakan pertama terbit pada tahun 1981 M.

Dalam kitab ini beliau membahas tentang sejarah Iran sebelum dan setelah bangkitnya Islam, berikut berbagai konspirasi Persia terhadap Islam. Ideologi Syi’ah dulu dan sekarang. Dimensi politik revolusi Iran, dan niat buruk Iran terhadap Negara-negara Teluk.

Sungguh menarik, kitab tersebut kemudian sampai ke tangan Syekh Ibn Baz rahimahullah, lantas beliau membeli sekitar 3000 eksemplar dan membagikannya kepada para pemimpin dan tokoh di Arab Saudi saat itu. Agar para pengambil keputusan menyadari akan bahaya laten yang akan muncul kemudian.[2] Fakta yang menunjukkan bahwa beliau memiliki pandangan jauh ke depan. Bahwa pada masa yang akan datang, Syi’ah akan benar-benar menjadi ancaman berbahaya bagi Islam.

Imam Hasan al-Bashri berkata: “Fitnah itu jika akan muncul, akan diketahui oleh setiap alim, dan jika telah terjadi tahulah setiap orang jahil.”[3]

Kata fitnah dalam Al-Qur’an memiliki banyak makna, di antaranya cobaan dan ujian (QS. Al-Ankabut:2), syirik dan kekufuran (QS. Al-Baqarah: 193), bercampur aduknya kebenaran dan kebatilan (QS, Al-Anfal:73), menghalangi dari jalan Allah (QS. Al-Maidah:49), pembunuhan(QS. An-Nisa’:101), perpecahan (QS.At-Taubah:47), dll.

Termasuk makna fitnah adalah melakukan tipu daya dan memutarbalikkan fakta. Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدِ ابْتَغَوُا الْفِتْنَةَ مِن قَبْلُ وَقَلَّبُوا لَكَ الْأُمُورَ حَتَّىٰ جَاءَ الْحَقُّ وَظَهَرَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَارِهُونَ

Sesungguhnya dari dahulu pun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur pelbagai macam tipu daya untuk (merusakkan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah) dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya. (QS. At-Taubah:48)

Kini, banyak sekali oknum yang telah menyusun konspirasi untuk mengacaukan Indonesia seperti PKI dan Syi’ah Rafidhah. Maka, sudah menjadi tugas para alim ulama dan ustadz pengemban amanah dakwah, untuk memberi peringatan kepada para pengambil keputusan, kaum muslimin, dan rakyat Indonesia umumnya akan bahaya yang mengancam. Jika PKI sudah diharamkan di Indonesia, baik ideologi maupun segala organisasi yang berhubungan dengannya, maka kita harapkan MUI juga segera mengeluarkan fatwa kesesatan Syi’ah Rafidhah, dan memasukkannya dalam daftar aliran terlarang di Indonesia.

Sebagaimana para Nabi memperingatkan bahaya fitnah Dajjal, sebagaimana Rasulullah dan para sahabat menjelaskan Bahaya Khawarij, dan sebagaimana ulama-ulama Ahlus Sunnah sepanjang masa memperingatkan bahaya Syi’ah Rafidhah dan aliran-aliran sesat lainnya.

Hendaklah pemerintah menaruh perhatian penuh terhadap nasehat-nasehat tulus ulama yang hanya menginginkan kebaikan bagi NKRI. Sejarah membuktikan betapa besar peran mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan dan mempertahankannya.

Kaum muslimin hendaklah menjadikan para ulama sebagai panutan, mendengarkan petuah dan wejangan mereka, mengikuti tuntunannya. Bukan malah mencari-cari kesalahan atau melawan mereka dengan hawa nafsu tanpa ilmu.

Semoga Allah Azza wa Jalla membuka mata hati para pemimpin dan pejabat pengambil keputusan di negeri ini, serta melindungi Indonesia dari segala mara bahaya. Amin

________________________

[1]  Abdullah Muhammad al-Gharib, Wa Jaa’a Daurul Majus, h. 9

[2]  https://www.youtube.com/watch?v=oDDypbArEb4

[3]  Imam Bukhari, Tarikh al-Kabir, no. 2987.

You might also like More from author

Leave a comment
k