Bagaimanakah Sahabat Mencintai Nabinya?

Jamaah shalat Jum’at yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu keniscayaan dan kewajiban, mencintai beliau merupakan bagian dari ibadah, salah satu cabang dari iman seorang hamba kepada Allah  dan konsekwensi dari syahadat Muhammadur Rasulullah. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Artinya: “Dan demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya, tidak (sempurna) iman salah seorang di antara kalian, sampai dia mencintai aku (Nabi Muhammad) melebihi cintanya kepada orang tuanya, anaknya, dan semua manusia di muka bumi”.

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah..

Mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya hiasan lisan belaka dan bukan sekedar pengakuan seorang muslim tanpa ada realisasi nyata, namun cinta sejati adalah pengakuan yang diucapkan lisan, perasaan cinta yang terpatri dalam sanubari, dan diterjemahkan dalam amal nyata anggota tubuh kita.

Cinta adalah cinta, tidak ada definisi cinta yang lebih jelas daripada cinta itu sendiri, semua definisi hanya menambah kerumitan dan kekeringan maknanya. Adanya cinta telah menunjukkan definisinya, tidak ada ciri yang lebih jelas untuk menandai cinta daripada cinta itu sendiri, manusia hanya bisa berbicara tentang sebab, konsekuensi, ciri-ciri, bukti, buah, dan hukumnya saja, definisi cinta menurut mereka hanya berkutat sekitar enam hal ini, papar Ibnul Qoyyim dalam bukunya yang fenomenal Madarijus Salikin.

Salah satu problematika ummat dewasa ini adalah ketimpangan dalam membuktikan rasa cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian kaum muslimin mengaku beriman dan cinta kepada beliau, namun anehnya mereka justru mencari aib dari sunnah-sunnah yang diwariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan bahkan cenderung untuk mencela dan melecehkannya. Sementara itu, sebagian kaum muslimin yang lainnya  justru berlebihan dan melampaui batas dalam mengekspresikan rasa cintanya kepada beliau, sampai memuji beliau dengan sifat-sifat ketuhanan yang merupakan kekhususan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti mengatakan:

فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتها ***** وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمُ اللَّوْحِ وَالقَلَمِ

Artinya: (Wahai Nabi Muhammad) sesungguhnya dunia beserta seluruh isinya adalah bagian dari sifat dermawanmu, dan yang ada di Lauhul Mahfudh merupakan bagian dari luasnya ilmumu.

 

Jamaah jum’at yang dirahmati oleh Allah..

Sebenarnya jika kita ingin mengambil contoh aplikatif dalam merealisasikan rasa cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sudah ada generasi SAHABAT yang layak untuk menjadi panutan dan qudwah dalam masalah ini, mereka adalah generasi salaf yang dipuji oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  dengan sabdanya:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) pada zamanku (zaman sahabat), kemudian generasi yang setelahnya, kemudian generasi yang setelahnya”. HR Bukhari dan Muslim.

Tentunya pujian beliau berdasarkan fakta yang beliau ketahui tentang generasi ini, karena beliau senantiasa berinteraksi dengan mereka, apalagi kata-kata yang keluar dari lisan beliau yang mulia adalah wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu sangat urgen bagi seluruh kaum muslimin untuk kembali kepada siroh mereka dalam mengekspresikan cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam khutbah kali ini, kami akan memaparkan berapa potret dari refleksi kecintaan mereka terhadap beliau, diantara refleksi itu  adalah:

PERTAMA: PARA SAHABAT LEBIH BESAR KECINTAANNYA KEPADA NABI DARIPADA KEPADA DIRINYA.

Suatu saat ketika Umar berjalan bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Umar mengatakan: “Sesungguhnya aku mencintaimu melebihi cintaku kepada segala sesuatu wahai Rasulullah, kecuali cintaku kepada diriku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  menjawab: “Tidak wahai Umar, (imanmu tidak sempurna) kecuali engkau mencintai aku melebihi cintamu kepada dirimu“, maka Umarpun mengatakan: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.

Ibnu Hisyam meriwayatkan dalam buku Sirohnya, ketika perang Uhud berkecamuk, datang sebuah informasi yang mengejutkan para sahabat, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  wafat di medan pertempuran, ketika pertempuran  usai dan pasukan kaum muslimin kembali ke kota Madinah, datanglah seorang sahabat wanita mencari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berusaha menggali informasi tentang keadaan beliau, padahal perang Uhud telah merenggut nyawa orang-orang yang dicintainya, telah wafat bapaknya, suaminya dan saudara laki-lakinya dalam perang tersebut, namun beliau senantiasa bertanya: bagaimana keadaan Rasulullah?, sahabat wanita tersebut baru lega ketika berhadapan langsung dengan Rasulullah, iapun mengatakan: Wahai Rasulullah, semua musibah (yang menimpaku) menjadi ringan, yang penting engkau selamat.

Dan pemandangan menggetarkan jiwa akan tersaji di depan kita, jika memutar kembali sejarah berkecamuknya perang Uhud, pada saat itu para sahabat berlomba-lomba untuk menjadi “tameng” hidup  bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang telah dikepung oleh kaum kafir Quraisy dengan senjata yang terhunus,  para sahabat  dengan penuh semangat dan tanpa gentar bergegas untuk mengorbankan jiwa mereka dan menyelamatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  dari ancaman senjata yang haus darah, hal itu tentunya disebabkan kecintaan mereka yang luar biasa kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, jiwapun siap mereka korbankan yang penting pujaan hati mereka selamat dari sergapan kaum kafir Quraisy.

Gunung Uhud dan kisah perang Uhud tidak akan pernah meninggalkan benak kaum muslimin yang mencintai Nabinya, bahkan akan senantiasa menjadi cerminan bagi mereka dalam membuktikan rasa cinta kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena tempat tersebut menjadi saksi bisu peristiwa sejarah yang agung, yang mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai aplikatif cinta Nabi yang sebenarnya, yaitu mencintai beliau melebihi cinta kita kepada diri sendiri dan seluruh manusia.

 

Jamaah shalat jum’at yang dirahmati oleh Allah

KEDUA: MENTAATI RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM.

Cinta dan taat adalah dua kata, namun saling berkaitan erat, karena bukti dari cinta sejati adalah ketaatan dan kepatuhan kepada yang dicintai, Imam Syafi’I mengatakan dalam syairnya:

تَعْصِي الإِلَهَ وَأَنْتَ تُظْهِرُ حُبَّهُ  ***هَذَا مُحَالٌ فِي الْقِيَاسِ بَدِيْع

لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقًا لَأَطَعْتَهُ  ***فَإِنَّ المحبّ لِمَنْ يُحِبّ مُطِيْع

Engkau bermaksiat kepada Allah padahal engkau mengaku mencintaiNya*** Sesungguhnya hal ini adalah mustahil menurut nalar yang sehat

Seandainya cintamu sejati niscaya engkau akan menaatiNya***Sesungguhnya sang pecinta sejati akan menaati yang dicintai.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, bahwa suatu saat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai cincin dari emas, maka para sahabatpun meniru perbuatan tersebut dan mereka menghiasi jemari mereka dengan cincin dari emas, selang beberapa waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  melepas cincin tersebut karena diharamkan memakai emas bagi laki-laki, maka para sahabatpun melepaskan cincin tersebut demi mengikuti sang Nabi yang tercinta.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa ketika perang Khaibar, para sahabat didera rasa lapar yang hebat, pada saat  itu mereka berhasil mendapatkan seekor keledai, maka merekapun bergembira dan menyembelihnya, menguliti dan mulai memasaknya, maka perasaan mereka mulai tenang karena bayangan mereka akan melewati hari dengan perut kenyang, ketika air di panci sudah mendidih, daging keledai yang dimasak sudah mulai lunak, dan perut yang keroncongan semakin menghebat, tiba-tiba datang utusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  (yaitu Abu Thalhah), mengabarkan bahwa Allah telah mengharamkan daging keledai atas kaum muslimin, maka dengan tanpa ragu dan tanpa kasak-kusuk, mereka membuang daging keledai yang mulai masak, dan mereka rela melewatkan hari dengan perut keroncongan yang penting kecintaan kepada sang Nabi tidak ternoda.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik, yang mana beliau menceritakan tentang salah satu proses pengharaman khomer (minuman keras), beliau saat itu menjadi joki (yang menuangkan minuman) di rumah Abu Thalhah , ketika itu setelah shalat Isya dan mereka sudah bersiap-siap untuk minum khomer, tiba-tiba datang utusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  menginformasikan turunnya wahyu  tentang diharamkannya khomer, maka seketika itu juga Abu Thalhah memerintahkan Anas untuk menumpahkan khomer-khomer dari bejana, sampai jalanan di kota Madinah “banjir” dengan khomer.

بارك الله لنا ولكم في القرآن الكريم ونفعنا وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم –قلت ما سمعتم-، ونستغفر الله لنا ولكم إنه هو الغفور الرحيم

 

KHUTBAH KEDUA:

Kaum muslimin rahimakumullah..

Telah kita sebutkan di khutbah pertama, beberapa riwayat dari potret cinta para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bererta contoh aplikatif dari cinta tersebut, sesungguhnya kedua poin yang kita paparkan di atas saling berkaitan kuat.

Poin pertama membahas tentang kwantitas dan kwalitas cinta para sahabat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, adapun poin kedua memaparkan contoh kongkrit dari aplikasi cinta kepada Nabi berupa sikap patuh dan taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kendati “wahyu” yang turun bertentangan dengan nafsu mereka, mereka “menikmati” rasa lapar yang menyerang mereka dan memilih tidak memakan daging keledai yang sudah siap santap tanpa mengeluh sedikitpun. Merekapun siap meninggalkan khomer ketika sang Nabi telah melarangnya, padahal meminum khomer merupakan kebiasaan mereka sejak zaman jahiliyah, dan mereka adalah “pecandu” khomer, yang mana khomer telah menjadi bagian dari darah mereka, namun ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharamkan hal tersebut, maka kata-kata “sami’na wa atha’na” adalah motto mereka.

Oleh karena itu sudah seyogyanya kita sebagai kaum muslimin yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk mengikuti jejak para Sahabat dalam segala hal, salah satunya adalah dalam masalah aplikasi nyata rasa cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , mereka adalah qudwah bagi kaum muslimin sampai datang hari pembalasan.

 

You might also like More from author

Leave a comment
k