Tunaikanlah amanahmu!

Menunaikan amanah adalah salah satu di antara akhlak mulia, akhlak yang dimiliki oleh orang-orang saleh. Allah Ta’ala telah memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman untuk menunaikan amanah, Ia berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” [QS. An-Nisa: 58].

Demikian juga Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam mengajak umatnya kepada akhlak mulia ini, beliau bersabda, “Tunaikanlah amanah kepada siapa yang memberimu amanah.” [HR. Abu Daud].

Dengan demikian, menunaikan amanah bernilai ketaatan kepada Allah Ta’ala dan realisasi terhadap ajaran Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam.

Keutamaan menunaikan amanah

Seorang yang amanah akan dicintai dan diridhai Allah Ta’ala dan RasulNya. Allah Ta’ala menyiapkan kedudukan tinggi di akhirat bagi orang yang amanah, yaitu surga Firdaus yang merupakan tingkatan surga tertinggi. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. (Yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” [QS. Al-Mukminun: 8-11].

Dengan tersebarnya sifat amanah di sebuah masyarakat, akan lahir rasa aman dan saling percaya di antara anggotanya, sebagaimana juga akan semakin menguatkan rasa kasih sayang, persaudaraan, dan gotong-royong. Seorang yang memiliki sifat amanah akan disenangi dan dihormati oleh orang lain, mereka akan berinteraksi dengannya dengan penuh rasa aman dan menaruh kepercayaan kepadanya.  

Sifat amanah pada diri seseorang menunjukkan kesempurnaan imannya. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki sifat ini berarti sedang lemah imannya. Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Tidak sempurna keimanan orang yang tidak menunaikan amanah.” [HR. Ahmad].

Seseorang yang amanah akan menjadi panutan bagi orang-orang beriman.

Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam sebagai sosok orang yang amanah mendapatkan kepercayaan dari penduduk Mekah kala itu, baik sebelum diutus menjadi seorang nabi dan rasul maupun setelahnya, meski mereka memusuhinya dan tidak beriman kepada agama Islam yang dibawanya. Mereka menitipkan barang miliknya kepada beliau jika hendak melakukan perjalanan jauh, karena mereka yakin beliau akan menjaganya dengan baik dan mengembalikan kepadanya tanpa kurang sedikitpun. Ketika intimidasi orang-orang musyrik Quraisy semakin gencar dan keras kepada beliau dan para sahabatnya, Allah Ta’ala mengizinkan beliau untuk berhijrah ke kota Madinah, namun sebelum beliau meninggalkan Mekah, seluruh titipan orang-orang Quraisy kepadanya itu dititipkan kepada Ali bin Abi Thalib untuk dikembalikan kepada pemiliknya. Betapa mulia akhlak Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, kebencian dan permusuhan orang-orang musyrik kepadanya tidak membuatnya khianat terhadap amanah yang dipercayakan kepadanya. Maka kita sebagai pengikutnya hendaknya mencontoh beliau dalam sikap mulia ini.

Bentuk-bentuk amanah

Amanah Allah Ta’ala tidak hanya berbentuk titipan barang atau harta yang dititipkan oleh orang lain kepada kita. Ya, itu adalah salah satu di antaranya. Namun masih banyak bentuk-bentuk amanah yang patut kita tunaikan dengan sebaik-baiknya, di antaranya:

  1. Ibadah yang Allah Ta’ala syariatkan kepada kita, dan ini adalah amanah terbesar yang Allah Ta’ala pikulkan kepada manusia. Amanah ini telah ditawarkan kepada makhluk-makhluk lain, namun mereka enggan memikulnya dikarenakan ia adalah amanah yang berat. Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, namun semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” [QS. Al-Ahzab: 72].

Maka shalat adalah amanah, kita diperintahkan menunaikan amanah ini dengan sempurna, menjaga shalat lima waktu dengan baik, dilaksanakan pada waktunya dengan penuh tumakninah dan khusyuk kepadaNya. Demikian juga puasa adalah amanah, kita dituntut untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadhan dengan menjaga ketentuan-ketentuannya. Membayar zakat harta juga merupakan amanah yang harus dijalankan oleh orang yang telah memenuhi syarat wajib mengeluarkan zakat hartanya dan menyalurkannya kepada orang-orang yang berhak. Demikianlah seterusnya, seluruh ibadah yang Allah Ta’ala syariatkan kepada manusia merupakan amanah di pundaknya untuk ditunaikan secara sempurna.

  1. Transaksi jual beli juga adalah amanah. Seorang pedagang yang amanah akan menjual barang dagangannya dengan penuh amanah, tidak menyembunyikan cacat yang ada pada barang dagangannya, apalagi bersumpah palsu atas nama Allah Ta’ala demi melariskan barang dagangannya. Demikian halnya seorang konsumen, tidak curang kepada pedagang ketika melakukan tawar menawar dan transaksi. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam telah mengingatkan umatnya untuk tidak curang dalam perkara jual beli, bahkan beliau mengancam pelakunya dalam sabdanya, “Siapa yang berlaku curang kepada kami (umat Islam) maka ia tidak termasuk dalam golongan kami.” [HR. Muslim].
  1. Janji adalah amanah. Jika engkau telah membuat janji dengan seseorang, maka wajib bagimu menepatinya sesuai waktu dan tempat yang disepakati, tidak boleh telat, apalagi ingkar janji. Tentu hal ini akan mengecewakannya bahkan merugikannya, karena bisa jadi ia telah mengorbankan hal lain demi janji itu. Dan hal ini bisa berefek buruk kepada kita, karena akan merusak kepercayaan yang telah ia berikan kepada kita. Tidak menepati janji adalah salah satu di antara sifat orang munafik. Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam menyebutkan tanda-tanda orang munafik, salah satu di antaranya, “Dan jika ia berjanji, ia ingkar janji.” [HR. Bukhari dan Muslim].
  1. Ilmu adalah amanah, maka ia harus ditunaikan. Caranya adalah dengan dua hal; pertama dengan mengamalkannya. Ilmu tidak hanya sekedar dipelajari. Sebagian orang hanya cinta ilmu, sehingga segala waktu, tenaga, dan hartanya digunakan untuk menuntut ilmu semata-mata hanya memperluas wawasan. Dan yang lebih parah lagi kalau ilmunya itu hanya dijadikan sebagai alat untuk membanggakan diri atau bahkan merugikan orang lain. Semakin banyak ilmu yang dimilikinya maka semakin banyak tanggung jawab yang dipikulnya. Ketika ia mampu menunaikan amanah ilmu dengan baik maka ia akan menjadi manusia yang mulia. Yang kedua setelah mengamalkan ilmu itu adalah mengajarkannya kepada orang lain, ini adalah bagian dari zakat ilmu. Mengajarkan ilmu tidak hanya dipahami dalam konteks formal, tapi membimbing, menegur kesalahan, memberi contoh dan panutan termasuk dalam kategori mengajarkan ilmu. Menyembunyikan ilmu, khususnya ilmu agama, mendapatkan ancaman keras dari Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, beliau bersabda, “Siapa yang menyembunyikan ilmu, maka ia akan dikalungi dengan kalung dari api neraka.” [HR. Ibnu Hibban].
  1. Pekerjaan dan tugas adalah amanah, hendaknya dikerjakan secara profesional, tidak dikerjakan asal-asalan dan berprinsip asal jadi. Allah Ta’ala senang kepada seorang hamba yang melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Ia telah memerintahkan hal itu dalam segala hal. Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menetapkan (mewajibkan) berbuat baik dalam segala hal.” [HR. Muslim]. Maka seorang pegawai hendaknya menjalankan amanah pekerjaan dan tugas yang diberikan kepadanya dengan baik, demikian halnya dengan profesi lainnya.
  1. Rahasia adalah amanah. Siapa yang dipercayakan menjaga rahasia maka ia wajib menyimpan rahasia itu dan tidak dibuka kepada orang yang tidak diizinkan. Termasuk rahasia yang harus dijaga adalah rahasia antara suami dan istri, masing-masing harus menjaga rahasia tersebut, tidak boleh diceritakan kepada siapapun, apalagi yang merupakan kekurangan atau sifat yang dimiliki pasangannya. Sangat disayangkan, rahasia yang harus dijaga ini malah diumbar di media sosial sehingga tersebar ke seluruh penjuru bumi.
  1. Waktu dan umur adalah amanah, dan ia adalah modal utama untuk berniaga dengan Allah Ta’ala. Maka jangan sampai umur yang singkat ini kita sia-siakan dalam hal yang tidak bermanfaat atau bahkan membahayakan kehidupan dunia kita, terlebih lagi kehidupan akhirat.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk menjalankan amanah dengan baik dan sempurna. Amin.

You might also like More from author

Leave a comment
k