Menanamkan Kedisiplinan Pada Anak

Di antara anak-anak yang tumbuh dalam asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Umar bin Abi Salamah. Ya, karena ibundanya dinikahi oleh beliau sepeninggal suaminya. Umar radhiyallahu ‘anhu menceritakan salah satu pengalaman berharga yang ia dapatkan pada masa kecilnya, disiplin makan. Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya makan dengan acak, beliau memberi arahan dan aturan makan: “Nak, baca basmalah, makan dengan tangan kanan, dan makan mulai dari yang terdekat denganmu!” Umar menuturkan bahwa sejak itu disiplin makan tersebut menjadi pola makannya sepanjang hidup.

Terlihat dalam riwayat di atas bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanamkan kedisiplinan pada sahabat meski masih  kanak-kanak. Bahkan di masa kanak-kanak ini jika orang tua berhasil mendisiplinkan suatu sikap, maka ini akan melekat selama hidupnya. Sebagaimana penuturan Umar di atas.

Berbicara kedisiplinan, kata ini memuat banyak makna. Di antaranya: ketaatan, kepatuhan, keteraturan, ketepatan waktu, tepat janji, tata tertib, peraturan, dan semisalnya. Hal ini menunjukkan bahwa karakter ini termasuk karakter positif unggul yang sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang. Tak heran jika Islam memberi perhatian besar dalam masalah ini. Syariat-syariat Islam pun kalau kita cermati mengandung unsur pendidikan ini. Shalat mendidik kita dalam kedisiplinan mengatur waktu, puasa mengajari kita kedisiplinan makan, zakat juga mendisiplinkan kita dalam urusan harta, dalam ibadah haji lebih tampak lagi pendidikan kedisiplinan ini dari beberapa aspek.

Semua itu karena manusia agar terjaga fitrahnya perlu batasan-batasan dalam hidup. Melampaui batas itu akan menjerumuskannya dalam kehancuran baik tataran pribadi maupun tataran masyarakat.

Kedisiplinan dalam keluarga

Sebagai orang tua kita memiliki tanggung jawab dalam mengajarkan kedisiplinan pada pribadi anak, karena karakter ini bagian dari agama. Anak yang tumbuh berkembang di lingkungan keluarga disiplin akan menjadi sosok teladan di kemudian hari. Beberapa poin berikut mudah-mudahan dapat membantu kita dalam menunaikan tanggung jawab ini.

Pertama: Selaku orang tua kita terlebih dahulu menjadi orang yang disiplin, dalam urusan waktu dan aktivitas kita. Ini penting karena keteladanan merupakan cara pendidikan terbaik. Kalaupun kita dahulu terdidik dalam keluarga yang tidak disiplin, maka kita perlu move on untuk tidak larut dalam menyalahkan orang tua kita. Kita bangkit dengan penuh kesadaran untuk membenahi diri dan siap menjadi manusia pembelajar sepanjang hayat, mengikutsertakan diri dalam aktivitas kedisiplinan anak.

Kedua: Kekompakan orang tua.

Ayah dan bunda harus kompak dalam menegakkan kedisiplinan di rumah. Tata tertib, sopan santun, dan jadwal aktivitas perlu didiskusikan bersama terlebih dahulu. Ketidakkompakan orang tua akan melahirkan kebingungan pada anak, atau justru kontra produktif karena akan menjadikan kata-kata ayah sebagai senjata untuk membantah ibu dan sebaliknya.

Ketiga: Membangun kesepakatan dengan anak dan anggota keluarga lainnya.

Apa yang sudah didiskusikan bersama pasangan itu disampaikan kepada anak untuk mendapatkan tanggapan. Tidak mengapa ada tawar-menawar jika anak merasa berat dengan tata tertib tertentu. Dengan ini aturan dalam keluarga menjadi sebuah kesepakatan dan bukan paksaan sepihak (pihak orang tua). Pemilihan waktu penyampaian dan diskusi ini juga perlu diperhatikan. Dianjurkan pada saat santai dan longgar, bukan saat tegang dan terburu-buru.

Jika anak kita masih batita (bawah tiga tahun) yang belum bisa diajak musyawarah, maka cukup kita terapkan kedisiplinan itu padanya, sehingga menjadi kebiasaan baik mengiringi tumbuh kembangnya.

Keempat: Membangun kesan yang menyenangkan.

Kedisiplinan tidak identik dengan kekerasan, teriakan keras, atau bentakan. Kalau ini yang dilakukan, maka bisa saja anak menjadi disiplin namun kesan yang tertanam dalam jiwanya kesan yang tidak menyenangkan. Dan ini akan terbawa seumur hidup.

Kesan menyenangkan bisa kita bangun dengan pilihan kata yang baik; nak, sayang, jagoan ayah, putri bunda, dan kata sapaan indah lainnya. Cara menegur saat ada pelanggaran disiplin pun hendaknya dengan pilihan kata dan cara yang baik, karena spirit kita adalah arahan bukan mencari kesalahan. Intinya bagaimana anak mengetahui bahwa yang dilakukan adalah salah. Yang juga tidak boleh luput, saat anak telah melakukan sikap disiplin yang baik orang tua segera memberi apresiasi; “Hebat anak ayah.”, acungan jempol, dekapan, ciuman, dan semisalnya.

Kelima: Konsisten.

Kedisiplinan akan efektif jika ada konsistensi. Hal ini menuntut komitmen semua anggota keluarga. Perlu ada ketegasan dalam menjaga konsistensi ini. Bisa dengan menyepakati hukuman tertentu yang mendidik, mengevaluasi aturan secara berkala, saling mengingatkan satu dengan yang lain. Termasuk juga jika orang tua yang melanggar maka ia harus siap menjalani konsekuensinya, karena ini akan ditangkap oleh anak bahwa orang tuanya serius dalam upaya menegakkan aturan kedisiplinan.

Meski demikian, perlu ada ruang toleransi pada kasus-kasus tertentu, pada saat-saat darurat misalnya. Jika itu terjadi baiknya tetap dikomunikasikan agar tidak menjadi celah runtuhnya kedisiplinan yang sudah dibangun.

Contoh kedisiplinan dalam keluarga

Dalam ranah ibadah:

  1. Bergegas shalat saat mendengar adzan dan ke masjid atau musholla bagi laki-laki.
  2. Mengaji (membaca Al Quran) setelah shalat maghrib.
  3. Membaca doa atau dzikir dalam semua aktivitas.
  4. Berkerudung saat keluar rumah bagi perempuan.
  5. Bersedekah

Dalam ranah ketertiban:

  1. Membereskan tempat tidur saat bangun.
  2. Membuang sampah pada tempatnya.
  3. Meletakkan sepatu, tas, seragam sekolah pada tempatnya.
  4. Membereskan mainan setelah selesai.

Dalam ranah waktu:

  1. Waktu mandi pagi dan sore.
  2. Waktu belajar.
  3. Waktu bermain.
  4. Waktu menonton tv.
  5. Waktu makan.

Lain-lain:

  1. Pamit saat ke luar rumah.
  2. Mengucapkan salam saat masuk rumah.
  3. Meminta ijin ketika mau memakai milik orang lain.
  4. Melaksanakan tugas rumah (menyapu, mencuci baju, mencuci piring, dll).
  5. Berbagi makanan kepada adik kakak.
  6. Meminta maaf bagi yang salah.
  7. Berterima kasih setelah diberi atau dibantu.
  8. Menyalami tamu yang datang.

 

You might also like More from author

Leave a comment
k