Janganlah Bersikap Lemah, dan Janganlah Bersedih Hati …

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyukai sikap optimisme”, demikian kata Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah [no.3536]. Bahkan Anas bin Malik meriwayatkan langsung dari lisan Rasulullah bahwa beliau bersabda: “Aku senang dengan sikap optimisme” [Bukhari no. 5756 & Muslim no. 2224].

Optimisme adalah sikap positif pada diri seseorang yang mendorongnya untuk menjadi lebih baik dan menyikapi segala takdir yang Allah tetapkan dengan proporsional, senantiasa mencari peluang-peluang baik ketimbang hanyut memikirkan problema dan rintangan. Bersikap optimis berarti selalu mengharap kebaikan, baik kebaikan dunia, agama maupun akhirat, selalu berprasangka baik kepada Allah Ta’ala bahwa Ia akan menakdirkan yang terbaik baginya. Hal ini akan melahirkan rasa tenang dan tenteram dalam jiwa, tidak resah terhadap apa yang akan dihadapinya. Jika terjadi sesuatu yang berada di luar perhitungannya, tidak membuatnya patah semangat, namun ia akan introspeksi diri, bisa jadi harapannya tidak tercapai karena usaha yang dilakukannya kurang maksimal sehingga menjadi pelajaran berharga baginya di masa yang akan datang. Jika ia merasa telah maksimal dalam berusaha maka ia berprasangka baik kepada Rabbnya bahwa apa yang ia prediksikan sebagai sesuatu yang baik mungkin saja tidak baik di sisi Allah Ta’ala sehingga Ia memalingkannya darinya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. [QS. Al Baqarah:216].

Bahkan dalam kehidupan berumah tangga, terkadang seorang suami atau isteri menemukan hal yang kurang ia senangi pada diri pasangannya, tapi bisa jadi Allah Ta’ala ingin berikan kebaikan di dalamnya, Ia berfirman:

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak [QS. An Nisa:19].

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan ummatnya untuk selalu bersikap optimis dalam segala hal. Ini terlihat jelas dalam kehidupan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau besikap optimis terhadap setiap ucapan baik. Abu Hurairah menceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah mendengarkan ucapan baik dari seseorang, beliau senang mendengarnya lalu berkata kepada orang itu: “Kami optimis atas ucapan anda” [HR. Abu Daud, no.3917].

Demikian juga halnya ketika beliau menyikapi mimpi-mimpi yang dilihatnya, selalu mengaitkan kebaikan terhadap apa yang dilihatnya dalam mimpi. Beliau bersabda: “Suatu malam aku bermimpi sebagaimana orang lain bermimpi, seakan-akan kita berada di rumah Uqbah bin Rafi’, kami membawa ruthab (kurma yang mulai matang) dari ruthah Bin Thab, maka aku tafsirkan mimpi itu bahwa kita akan mendapatkan kedudukan tinggi di dunia, dan akhir yang baik di akhirat serta agama kita telah baik/matang” [HR. Muslim no.2270]. Tafsir mimpi ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selalu membawa ke arah positif apa yang dilihat atau dialaminya, kedudukan tinggi diambil dari nama orang yang dilihatnya dalam mimpi yaitu Rafi’ yang artinya sesuatu yang tinggi, kebaikan di akhirat diambil juga dari nama orang itu yaitu Uqbah yang berarti kesudahan baik dan kesempurnaan agama ditafsirkan dari kurma ruthab yang terlihat matang dan baik.

Demikian halnya juga pada nama seseorang, mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang hingga ada yang mengatakan “apalah arti sebuah nama”!. Namun menurut Rasulullah nama sangat berarti, karena disamping ia adalah panggilan bagi seseorang, di dalamnya juga terkandung doa untuk pemilik nama itu. Dengan memiliki nama yang mengandung arti baik, diharapkan kebaikan itu terus menyertainya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam senang dengan nama nama baik, bahkan banyak di antara nama-nama sahabat yang mengandung makna buruk beliau ubah dan ganti dengan nama-nama yang mengandung makna baik. Beliau mengubah nama seorang wanita dari ‘Ashiah (pendosa) menjadi Jamilah (cantik). Seorang lelaki datang kepada Rasulullah, lalu beliau menanyakan namanya, ia menjawab: Hazan (susah), kemudian Rasulullah menggantinya menjadi Sahal (mudah). Bukan hanya nama manusia yang diganti oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bahkan nama tempat atau daerah yang memiliki arti buruk diganti oleh beliau, di antaranya lembah Dhalalah (kesesatan) beliau ganti dengan lembah Huda (petunjuk).

Sikap optimisme juga tampak dalam ibadah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ketika kota Madinah kemarau panjang dan hujan belum kunjung turun, beliau melaksanakan shalat Istisqa (meminta hujan), lalu beliau berkhutbah dan berdoa meminta kepada Allah agar menurunkan hujan, beliau membalik kain yang menutup pundaknya setelah berdoa dengan harapan Allah Ta’ala membalik kondisi kota Madinah, dari kemarau menjadi turun hujan.

Tidak hanya sampai di situ, optimisme Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tetap hadir hingga di saat saat sulit. Pernah, ketika awal dakwahnya, beliau pergi ke Thaif dengan harapan penduduk Thaif akan menerima dakwahnya. Namun tidak sesuai harapan, justru mereka mengusir beliau dan menyakitinya dengan melemparinya batu hingga kaki beliau mengucurkan darah, di saat itu malaikat datang dan menawarkan padanya untuk membinasakan penduduk Thaif. Bukannya menerima tawaran itu, tapi beliau menjawab dengan penuh optimis: “Aku berharap Allah mengeluarkan dari sulbi (keturunan) mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak melakukan kesyirikan” [HR. Bukhari, no.3231].

Dan yang paling menakjubkan, pada peristiwa perang Khandaq (parit), ketika orang-orang musyrik dan ahlul kitab berkoalisi untuk menyerang kota Medinah dan mengepungnya, Rasulullah beserta sahabatnya menggali parit guna menghalau mereka agar tidak dapat menembus masuk ke dalam kota Madinah. Sambil menggali parit dan memukul batu yang menghalangi parit beliau membaca basmalah dan berkata: “Allahu Akbar (Allah Maha Besar), aku telah diberi kunci-kunci Syam. Dan demi Allah, saya benar-benar dapat melihat istananya yang putih, dari tempatku ini.” Kemudian beliau membaca basmalah dan memukul batu itu kembali. Setelah itu beliau bersabda: “Demi Allah, aku telah diberi kunci-kunci Persia, dan demi Allah, aku benar-benar melihat kota-kotanya dan aku dapat melihat istananya yang berwarna putih dari tempatku ini.” kemudian beliau membaca lagi basmalah dan kembali memukul sehingga pecahlah semua batu itu. dan beliau bersabda: “Allahu Akbar (Allah Maha Besar) aku telah diberi kunci-kunci Yaman sehingga aku dapat melihat pintu-pintu Shan’a` dari tempatku ini.” [HR. Ahmad, no.18694].

Demikianlah pribadi Rasulullah yang penuh dengan rasa optimis dan prasangka baik kepada Allah Ta’ala. Sikap ini tidak hanya terwujud dalam pribadi Rasulullah, beliau mendidik sahabatnya, bahkan ummatnya setelah beliau wafat, untuk senantiasa memiliki sikap optimis terhadap kebaikan dan kejayaan.

Sikap ini sangat penting dimiliki oleh ummat Islam hari ini, baik pribadi maupun masyarakat dan negara. Di zaman yang penuh dengan cobaan dan ujian, di seluruh belahan bumi tempat berpijak umat Islam. Di beberapa negara kita saksikan dan dengarkan pilu saudara saudara seiman kita yang ditindas, dizalimi, diusir dari negerinya sendiri, bahkan dibantai hingga berjatuhan korban jiwa yang jumlahnya membuat bulu kudu merinding.

Dan kondisi itu semakin diperburuk dengan kurangnya uluran tangan dari umat Islam untuk berdiri di hadapan mereka, membela mereka dari tindakan tindakan yang sudah melampaui batas manusiawi. Mereka sangat butuh bantuan saudara saudaranya seiman dalam bentuk kekuatan politik, militer, makanan, pakaian, tempat tinggal. Kondisi seperti ini sangat berpotensi melahirkan rasa putus asa dan hilang harapan. Dalam kondisi ini sangat diperlukan sikap optimisme dan husnudz dzhan kepada Allah Ta’ala. Tentu dengan tidak menafikan usaha-usaha konkrit yang patut dilakukan oleh seluruh umat Islam, baik yang berada di daerah konflik maupun yang di luar wilayah tersebut untuk keluar dari krisis ini. Setiap orang melakukan sesuatu sebatas kemampuannya, skala pribadi, kelompok, ormas dan pemerintahan.

Sebagaimana sikap optimisme sangat kita butuhkan dalam kehidupan kita sehari hari, pada diri pribadi dan dalam kehidupan berumah tangga. Banyak problema yang kita hadapi setiap harinya, mulai dari masalah kesehatan, pekerjaan, ekonomi, hubungan antar keluarga dan kerabat dan lain lain. Dengan selalu menghadirkan sikap optimisme dalam kehidupan kita maka niscaya kita akan merasakan hidup bahagia di dunia ini, jauh dari perasaan sedih, semakin memperkuat tekad dan usaha kita untuk mencari dan melakukan segala hal yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat kita, dan tidak kalah pentingnya, dengan selalu bersikap optimisme berarti kita telah menapaki sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

You might also like More from author

Leave a comment
k