Berbakti kepada orang tua yang telah tiada

Allah Subhanahu wa ta’alla telah mengabarkan dalam firmanNya bahwa salah satu sifat yang dimiliki oleh para NabiNya ialah berbakti pada orang tuanya. Seperti yang Allah Subhanahu wa ta’alla sebutkan dalam salah satu ayatNya tentang NabiNya Yahya u, Allah ta’ala berfirman:

 وَبَرَّۢا بِوَٰلِدَيۡهِ وَلَمۡ يَكُن جَبَّارًا عَصِيّٗا

“Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka”.  (QS Maryam: 14).

Dan menceritakan tentang Isa alaihi salam putera Maryam:

 وَبَرَّۢا بِوَٰلِدَتِي وَلَمۡ يَجۡعَلۡنِي جَبَّارٗا شَقِيّٗا

“Dan berbakti kepada ibuku, dan -Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka”.  (QS Maryam: 32).

Namun bagaimanakah berbakti kepada kedua orang tua yang telah meninggal dunia?

Berikut ini beberapa amalan berdasarkan petunjuk dari Al Quran dan hadist yang dapat mewujudkan bakti seorang anak kepada orang tuanya yang telah meninggal dunia.[1]

Yang pertama adalah mendo’akan kebaikan pada keduanya. Sebagaimana firman Allah Shubhanahu wa ta’alla yang mengisahkan Nabi -Nya Nuh ‘alaihi sallam:

 رَّبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيَّ

“Ya Tuhanku! ampunilah aku dan ibu bapakku”. (QS Nuh: 28).

Dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: ‘Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ [أخرجه مسلم]

“Jika seorang manusia meninggal dunia maka terputus seluruh amalnya melainkan tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shalih yang mendo’akannya” (HR. Muslim)

Yang kedua adalah dengan bersedekah atas nama keduanya. Sebagaimana disebutkan dalam hadist yang diriwayatkan imam Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan:

أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِىَّ  -صلى الله عليه وسلم-  فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّىَ افْتُلِتَتْ نَفْسَهَا وَلَمْ تُوصِ وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ

“Pernah ada seseorang yang berkata pada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Sesungguhnya ibuku meninggal secara tiba-tiba, dan aku mengira kalau sekiranya sempat berbicara ia tentu ingin bersedekah, apakah ia bisa memperoleh pahala jikalau aku bersedekah atasnya? Beliau menjawab: “Ia”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Amalan yang ketiga sebagai bentuk upaya berbakti kepada orang tua setelah kematian keduanya ialah memuliakan teman-temannya dahulu dan bersilaturrahim  kepada  orang-orang yang tidak ada hubungannya  denganmu kecuali dengan orang tuamu.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim sebuah kisah dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Bahwa suatu ketika Abdullah bin Umar bertemu dengan seorang arab badui di tengah perjalanannya ke Makah. Maka beliau memberi salam padanya, lalu memberi keledai yang sedang ia tunggangi, kemudian beliau melepaskan sorban yang sedang beliau pakai untuk diberikan pada orang tersebut.

Ibnu Dinar -salah seorang yang menemaninya- berkata: ‘Maka kami tanya pada beliau: ‘Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla memberi kebaikan padamu. Sesungguhnya mereka hanya orang arab badui, yang apabila diberi sudah merasa cukup walau sedikit’. Abdullah bin Umar menjawab: “Sesungguhnya ayah orang ini adalah sahabat dekat Umar bin Khatab, sedangkan aku pernah mendengar langsung dari Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ [أخرجه مسلم]

“Sesungguhnya wujud berbakti kepada orang tua yang paling utama adalah menyambung hubungan baik dengan anak keturunan dari sahabat dekat ayahnya”.  (HR. Muslim)

Yang keempat adalah melaksanakan wasiat orang tua setelah mereka wafat.

Dari beberapa amalan yang disebutkan di atas manakah amalan yang paling utama untuk dilakukan seorang anak sebagai wujud baktinya kepada orang tuanya yang telah wafat?

Jawabannya adalah doa …. ya, doa untuk untuk mereka adalah lebih utama, ini berdasarkan hadits yang berbunyi:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedakah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Nabi shallallahu alaihi wasallam menyebutkan doa dalam konteks menyebutkan tentang amal, maka ini menjadi  bukti bahwa doa untuk kedua orang tua setelah wafatnya lebih utama dari pada sedekah untuk mereka, lebih utama dari pada umrah untuk mereka, lebih utama dari pada membaca al-Qur`an untuk mereka, dan lebih utama dari pada shalat untuk mereka, karena Nabi e tidak mungkin berpaling dari yang lebih utama (afdhal) kepada yang mafdhul (yang tidak utama), bahkan beliau harus menyebutkan yang lebih utama, menjelaskan bolehnya yang mafdhul, dan beliau telah menjelaskan dalam hadits ini mana yang lebih utama.

Maka yang paling utama adalah agar memperbanyak doa untuk mereka sebagai pengganti umrah, atau sedekah, atau amal yang serupa, karena inilah yang ditunjukkan oleh Nabi. Wallahu a’lam.[2]

Akhirnya kita mengucapkan segala puji hanya bagi Allah Ta’alla Rabb seluruh makhluk. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[1] Berbakti kepada kedua orang tua, oleh syaikh Amin asy-syaqawi.

[2] Berbakti kepada kedua orang tua, oleh: Syaikh Muhammard bin Shalih al-Utsaimin.

You might also like More from author

Leave a comment
k