Adab Mencari Rezeki

12

Bekerja mencari rezeki adalah anjuran setiap agama, terlebih agama islam, di mana Allah Ta’ala mewajibkan setiap muslim untuk bekerja dan mencari rezeki yang halal. Allah ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah”. (QS: Al-Baqarah: 172).

Juga berfirman: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (QS: Al-Baqarah 168).

Ibnu Abbas radhiyalahu ‘anhuma berkata: “Ketika aku membaca ayat ini di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, berkata Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu: “Wahai Rasulullah! Doakan aku, agar Allah menjadikanku orang yang selalu dikabulkan doanya.” Rasulullah bersabda:

يا سعد! طيب مطعمك تكن مستجاب الدعوة

Artinya: “Wahai Sa’ad halalkan makananmu maka kamu akan menjadi orang yang selalu di kabulkan doanya”.

Beliau melanjutkan sabdanya:

والذي نفس محمد بيده إن العبد ليقذف اللقمة الحرام في جوفه ما يتقبل منه عمل أربعين يوماً، وأيما عبد نبت لحمه من سحت فالنار أولى به

Artinya: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya seorang hamda yang memasukkan satu suapan yang haram kedalam perutnya maka amalnya sama sekali tidak di terima selama 40 hari, dan siapa saja yang dagingnya tumbuh dari sesuatu yang haram maka nerakalah yang pantas untuknya”. (HR. Muslim).

Dari keterangan di atas, disimpulkan bahwa islam memotivasi umatnya untuk bekerja mencari rezeki yang baik, sebagaimana pula islam memberikan kriteria rezeki yang baik itu, yaitu dengan memperhatikan sumbernya dan memastikan kehalalannya, di mana sumber rezeki itu harus terbebas dari kezaliman, kecurangan, penipuan dan ketidakjelasan, sebab rezeki yang halal akan memberikan efek baik bagi keluarga muslim.

Selain membiasakan akhlak yang terpuji, dan menjamin terkabulnya doa, serta mewariskan keberkahan pada anak keturunan, rezeki yang halal juga akan melahirkan ketenangan kebahagiaan dan kedamaian dalam rumah tangga. Sebaliknya, rezeki yang haram atau harta yang haram akan mengotori kebahagiaan keluarga dan akan membuka pintu-pintu setan.

Sebab itulah, merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk menjamin kehalalan sumber penghasilannya. Berikut ini ada beberapa akhlak atau adab dalam mencari rezeki yang halal, sbb:

Pertama: Mintalah rezeki yang halal dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu: maka mintalah rezeki itu disisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan”. (Al-Ankabut: 17).

Juga berfirman: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi: dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS: Al-Jumu’ah: 10)

Juga berfirman: “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu”. (QS: Al-Baqarah: 198)

Dalam hadis qudsi Allah berfirman:

يا عبادي كلكم جائع إلا من أطعمته فاستطعموني أطعمكم، يا عبادي كلكم عار إلا ما كسوته فاستكسوني أكسكم… إلخ

Artinya: “Wahai hamba-Ku, kalian semua lapar, kecuali orang yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya untuk kalian. Wahai hamba-Ku, kalian semua telanjang, kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya untuk kalian” (HR. Muslim)

Dalam hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ليسأل أحدكم ربه حاجته كلها حتى يسأل شسع نعله إذا انقطع

Artinya: “Mintalah semua hajat kalian kepada Rabb kalian, sampaipun minta tali sendalnya ketika terputus” (HR. Tirmizy)

Keterangan di atas menjelaskan kepada kita tentang keharusan meminta rezeki dari Allah ‘Azza wa Jalla Dzat pemberi rezeki, yang mustahil bagi-Nya untuk tidak memberikan rezeki bagi hamba yang memintanya dan yang telah bersusah payah mencarinya.

Kedua: Ikhlaskan niat

Yaitu dengan meniatkan bekerja mencari pencukupan bagi dirinya, keluarganya dan atau yang berada di bawah tanggungannya, pada setiap kali keluar dari rumah atau menuju tempat kerja.

Niat seperti ini akan membuka pintu-pintu rezeki, sebab ia terbangun di atas ketakwaan, sementara pintu-pintu rezeki berada di genggaman Allah, maka siapa yang mendatanginya dengan hati yang dipenuhi keikhlasan dan ketakwaan, maka akan dibuka untuknya pintu-pintu rezeki yang halal juga tambahan anugerah dari-Nya.

Ketiga: Amanah dalam bekerja serta tidak mengambil upah melebihi kerjanya.

Syeikh Abdul Muhsin Al-Abbad berkata: “Wajib bagi setiap pegawai atau pekerja untuk mengisi jam kerja dengan pekerjaan yang merupakan tugasnya, dan tidak mengisinya dengan hal-hal yang bukan pekerjaan yang wajib dia tunaikan. Jangan pula menghabiskan jam kerjanya atau sebagian dari  jam kerjanya itu  untuk kepentingan pribadinya atau kepentingan pegawai lainnya jika hal itu  tidak ada hubungannya dengan pekerjaan atau tugasnya.

Lanjut beliau, “Karena pada hakikatnya  jam kerja bukan milik pegawai atau pekerja, melainkan semata-mata untuk pekerjaan yang telah menjadi tugasnya yang mana  dia diberi gaji karenanya”

Beliau menambahkan: “Jika seseorang  menginginkan  agar upahnya diberikan secara sempurna tanpa sedikit pun dikurangi, maka seharusnya ia tidak mengurangi jam kerjanya, dengan hal-hal  yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaanya tersebut. Bukankah Allah ta’ala telah mencela orang-orang yang curang yang meminta dipenuhi takarannya, dan mengurangi takaran orang lain apabila ia yang menakarnya.

Allah Ta’ala berfirman: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi, tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan di bangkitkan pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam”. (QS; Al-Muthaffifin. 1-6), (Kaifa Yu’addi al-Muwadzaf al-Amanah).

Keempat: Tekun dalam bekerja.

Ketekunan dalam bekerja dan kesungguhan dalam  menunaikannya adalah kunci keberhasilan dan syarat untuk mendapatkan inayah dari Allah ta’ala, betapa tidak, Allah telah berfirman:
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (mencari keridha’an) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (QS: Al-Ankabut: 69).

Juga berfirman: “Dan katakanlah! Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS: At-Taubah: 105).

Rasulullah Shallallhu Alaihi wasallam bersabda:

إن الله تعالى يحب إذا عمل أحدكم عملا أن يتقنه

Artinya: “Sesungguhnya Allah ʽAzza wa Jalla menyukai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan secara tekun.” (HR. Al-Baihaqi).

Dari keterangan di atas, dengan jelas disimpulkan bahwa islam mendorong dan memotivasi umatnya untuk bekerja dengan penuh ketekunan, sebab selain dengannya kita bisa mendapatkan cinta dari Allah ‘Azza wa Jalla, juga mendapatkan inayah (pertolongan) dari-Nya.

Semoga Allah ta’ala menunjukkan kepada kita pintu-pintu rezeki yang halal, dan memperbagus akhlak kita dalam bekerja mencarinya, serta menanamkan ketekunan dalam bekerja mencari rezeki yang halal. Amin.

Leave A Reply

Your email address will not be published.